Tittle : [Oneshot] 3 Things
Cast :
- Baek Sun Mi
- EXO-M Xi Luhan as Xi Luhan
Disclaimer :
Plot is mine. Please report me if there is plagiarism. Happy reading all! Gak komen barbell melayang.
3 Things between us.
That Silly Paper
Topangan tanganku melemah, daguku langsung membentur permukaan meja jati ini dengan keras. Perih.
Perempuan bertubuh mungil di sampingku malah terpingkal-pingkal. Menertawakanku tentunya.
“Berapa menit lagi?” tanyaku kepada salah satu petugas kepolisian
daerah Gangnam di depanku. Pria itu hanya melirik, lalu melanjutkan
membaca koran.
Kalau aku bukan seorang selebriti yang harus selalu menjaga
image-nya, akan kuhajar pria jelek itu. Tapi yang paling utama, harusnya aku tidak berurusan dengan gadis mungil dipinggirku ini.
Andai dia tidak sembarang meletakkan tas ya di kursi umum saat
menolongku yang terpeleset di halte dan andai tidak ada pencopet, pasti
sekarang aku sedang minum
Bubble Tea di dorm. Bukannya malah menunggu para polisi yang mencurigaiku sebagai dalang pencopetan ini.
Tak lama, polisi berbadan tambun menghampiri kami, “pencopetnya sudah
kami amankan, ini dompetnya. Tuan, maaf sudah mencurigai anda.” Gadis
itu tersenyum senang, lalu memeriksa isi tasnya. Aku melirik isi tasnya
penasaran dengan isi tasnya.
“YAK!” teriakku refleks. Kaget karena di dalam tasnya hanya terdapat
selembar kertas. Hanya selembar kertas!!! Kertas berwarna yang terlihat
konyol.
“Hanya demi ini? Hanya demi selembar kertas konyol kubuang satu jam berhargaku? Dasar gila!” umpatku padanya.
“Maaf…” raut wajahnya penuh penyesalah, “tapi benda ini…”
Kalimat gadis tersebut tergantung tepat saat aku bergegas meninggalkan ruang terkutuk ini.
That Rain Coat
Hujan terus mengguyur Kota Seoul. Menyibak bau tanah yang tersimpan
selama berbulan-bulan. Biasanya aku suka bau tanah yang terguyur hujan,
tapi untuk kali ini tidak.
“Seluruh anggota EXO-K sudah berkumpul di ruang latihan,” Ucap Kris
setelah menatap layar handphonenya. Berbagai decakan kesal keluar. Salah
satunya berasal dari mulutku.
“Tidak bisa memesan taksi?” Tanya Tao.
“Jalan di sini baru saja ditutup karena terjadi kerusakan.
Satu-satunya pilihan hanya berjalan kaki. Tapi, meskipun tempat
latihannya dekat…”
“Kita tidak membawa payung.” Xiumin melanjutkan kalimat Kris.
Chen dan Lay yang sedari tadi diam kembali berdecak. Aku benar-benar
membenci situasi ini. Ini memang salah kami, nekat berjalan-jalan saat
mendung, tanpa membawa payung.
Semakin deras. Tidak ada satupun orang yang melewati kawasan yang biasanya selalu ramai ini.
“Ommo! Kris, Xiumin, Lay, Tao, Chen, dan… Luhan-ssi! Luhan-ssi, ini aku Baek Sun Mi! Kita bertemu lagi!”
Kami serentak menoleh, mendapati gadis mungil berlesung pipit sedang menenteng beberapa payung, kebetulan. Oh,
that silly paper girl. Mood ku semakin kacau.
Semua memandangku dengan tatapan ‘Kau kenal dia?’
“Kalian terjebak ya? Hm… aku beruntung sekali bisa menjadi pahlawan
kalian,” gadis berjas hujan itu menyodorkan dua buah payung berwarna
transparan.
“Siapa bilang kau pahlawan? Payungnya hanya dua. Mana cukup untuk kita berenam…” ejekku.
“Pakai jasku saja.” Gadis itu melepas jas hujannya. Kami semua
tersenyum lega. Kris dan Tao sudah bersiap dibawah payungnya, begitu
juga Chen dan Lay. Sementara Aku saling menutupi kepala menggunakan jas
hujan dengan Xiumin. Diawali Kris, semua berlari di bawah hujan menuju
tempat latihan.
Ada yang kurang. Aku tiba-tiba berhenti. Kami melupakan sesuatu. Gadis itu. Dia kan tidak membawa apa-apa.
“Hei, kenapa berhenti?” Tanya Xiumin padaku.
“Luhan-ssi, ayo cepat!” tiba-tiba gadis itu sudah ada di sampingku.
Hanya mengandalkan dua telapak tangan dari guyuran hujan. Dia ini, rela
diguyur derasnya hujan demi kami berenam.
“Jangan hujan-hujan. Mendekatlah,“ aku menarik tubuhnya hingga berada
di antaraku dan Xiumin, lalu kembali berlari. Tanpa sadar tanganku
sudah melingkar di bahunya erat.
Bukan, bukan saatnya berpikiran yang macam-macam. Aku hanya tidak ingin Ia rugi karena telah menolongku.
That children
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku pingsan. Yang jelas manager dan
semua orang bilang aku pingsan setelah kelelahan menghadiri acara
fan signing.
Kutatap malas gedung serba putih ini, bosan. Semua orang sudah pulang
dan kembali dengan jadwal padat mereka. Mereka akan menjenguk kembali
nanti sore.
Seperti orang bodoh, berjalan sendirian di lorong rumah sakit.
“… tapi dia sombong!”
Meski kalimat itu bukan untukku –tentu saja –aku tetap menoleh.
Kudapati seorang gadis memunggungiku, sedang dikerumuni oleh tiga bocah
bermotif baju sama, baju rumah sakit.
“Tidak. Dia orang yang baik. Sangat sangat sangat sangat baik.”
“Apa buktinya?”
“Hm…” gadis mengeluarkan
handphone-nya, “tadaaa! Aku yang memotret sendiri! Lihat wajahnya, orang baik adalah orang yang suka tersenyum.”
Para bocah kecil itu bersorak. Hei, kenapa malah mengamati mereka?
Sepertinya aku harus menyingkir dari kegiatan tidak berguna ini.
“Whoa, dia tersenyum. Xi Luhan daebak!“
Kaki kananku berhenti di udara. Tunggu, ada yang menyebut namaku?
Siapa saja tolong katakan ada orang Korea yang bernama Xi Luhan selain
aku.
“Hehe, aku bertemu dengan Luhan sudah dua kali. Nanti kalau ketemu
lagi, pasti kuceritakan kalian dan kuberikan surat ini padanya juga!”
Kutepuk pundak gadis yang asyik bercerita tersebut, membuatnya mau
tak mau terlonjak dan menoleh. Matanya melebar. Hah? Baek Sun Mi? Dia
lagi?
“O, Luhan-ssi? Sejak kapan… di sini?”
“Kalian membicarakanku?” tanyaku langsung. Tiga bocah yang tadinya
duduk tenang dengan posisi melingkar itu langsung terkejut melihatku
–
Gadis itu tegar. Benar-benar tegar.
Sudah tiga bulan berlalu sejak aku bertemu dengannya di pos polisi
Gangnam, baru kali ini aku melihatnya mengangis. Bukan tangisan sedih
atau kecewa, namun tangis dengan senyum rela.
Ternyata, Sun Mi pernah memotretku diam-diam setelah menolongku dari
jebakan hujan dulu. Bukan, bukan untuknya. Tapi untuk penggemarku, tiga
bocah kecil itu.
Kertas warna-warni, kertas konyol yang pernah membuatku terperangkap
di pos polisi, adalah surat dari mereka. Pendek, tapi membuatku
menitikkan air mata sebelum selesai membacanya.
Mereka bertiga adalah anak asuh pemerintah yang sudah mendekam di
rumah sakit sejak kecil. Masing-masing mengidap leukemia, jantung lemah,
dan kanker otak, penyakit mematikan. Untunglah ada seorang malaikat
bernama Sun Mi yang menemani mereka melewati sisa waktu dengan tawa.
Hari ini salah satu dari mereka, Seri, meninggal karena leukimia.
Namun aku bersyukur, karena bisa memberi kekuatan melalui senyuman di
sisa hidupnya bersama Sun Mi. Ya, Sun Mi, gadis mungil yang kini
diam-diam kusebut malaikat itu.
“Seri, tenanglah di alam sana…” bisik Sun Mi.
“Kuharap Seri menemukan malaikat pengganti disana,” ucapku. Tak berani menatap Sun Mi yang mungkin tidak tahu maksud kalimatku.
“Kajja (ayo), kita pulang.”
Aku dan Sun Mi berjalan dalam diam.
Handphone-ku berkali-kali bergetar karena panggilan masuk manager memintaku cepat pulang.
“Bolehkah aku meminta satu hal? Jika kau tidak sibuk, kunjungilah
anak-anak di rumah sakit. Mereka pasti semakin semangat,” pinta Sun Mi
tiba-tiba.
“Bolehkah aku meminta satu hal juga?” tanyaku balik.
“Apa?”
Aku mengadah ke langit, seolah sedang berbicara dengan awan.
“Bolehkah aku mencintaimu, malaikat?”
“Hah? Maksudnya?”
Aku lekas berjalan cepat, menggenggam tangannya erat, “entahlah. Ayo kuantar pulang. Mungkin sebentar lagi hujan!”
Kutahan senyumku saat melihatnya sedang kebingungan mencerna kata-kataku tadi.
Hei, Sun Mi! Cepat atau lambat akan kuungkapkan perasaanku padamu. Pasti.
Sun Mi, Saranghae.
Lo. Gue. END.
Ingat, meskipun ff ini abal badai, gak komen barbell melayang! ^^