Pengikut

Minggu, 02 Desember 2012

I'M YOUR PATRON

Tittle : I'M YOUR PATRON | Chapter 1
Author : sehuna_na
Rating : T
Genre : Yaoi, Romance (gagal), Action (lebih gagal),
Length : Chaptered
Main Cast : Find it by ur self
Disclaimer: The casts belong to their God (and me), this fic belongs to my self
Warning : OOC, typo[s], alur berantakan, hancur, lebay, ga jelas…

Bugh…
Brak…
Terdengar suara gaduh di gang kecil tersebut. Terlihat sosok cantik sedang meletakkan kaki mungilnya di atas dada seseorang yang, ehm mungkin badannya lebih besar dari sosok itu.
"Jangan macam2 ahjussi, kalau aku melihatmu mengganggu daerah ini lagi, aku pastikan kakiku ini akan berpindah ke wajahmu. Arra?"
"Ne…ne…ampuni aku nona."
Laki2 itu menangkupkan kedua tangannya. Memohon ampun pada sosok cantik itu. Namun kaki itu malah semakin menekan dadanya yang sudah sesak sedari tadi.
"Mwo? Kau panggil aku nona? Ya! Aku namja pabo. Sudahlah, silahkan meninggalkan tempat ini ahjussi. Atau aku tidak bisa menjamin keselamatan hidupmu."
Setelah sosok cantik itu mengangkat kakinya, namja tersebut segera berlari sambil memegang dadanya. Terseok2 sepertinya.
"Cih, baru begitu saja ketakutan. Padahal badan ahjussi itu lebih besar. Awas saja kalau dia berani ke sini lagi, aku pastikan tulangnya remuk."
Sosok cantik tersebut bergumam sendiri. Lalu dia berbalik dan hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Plok…
Plok…
Plok…
Terdengar suara tepuk tangan. Sosok cantik itu kembali memasang kuda2, bersiap ketika ada serangan lagi. Namun mimic wajahnya yang semula waspada berubah menjadi seulas senyuman lega.
"Tao! Kau mengagetkanku."
Seorang namja berperawakan tinggi sambil tersenyum manis mendekat padanya.
"Gege, aku kan hanya bertepuk tangan. Aksimu tadi benar2 keren. Aku melihatnya dari awal lho."
Namja yang dipanggil Tao tersebut hanya terkekeh kecil. Lalu merangkul pundak sosok kecil yang ia perhatikan dari tadi.
"Lalu kenapa kau tidak membantuku?"
"Nanti aku mengganggu aksi heroik-mu ge."
Sosok mungil dan cantik itu hanya mempoutkan bibir mungilnya sambil memasang muka malas. Itu terlihat imut sekali.
"Ya Xi Luhan. Jangan pasang muka seperti itu. Ingat umurmu sudah 22 tahun. Jangan sok imut!"
Sebuah jitakan kecil mendarat di kepala Tao.
"Luhan ge! Appo. Kau ini..."
"Sekali lagi kau memanggilku tanpa embel2 'gege' kepalamu akan terpisah dari tubuhmu Tao."
Luhan memasang tampang seramnya pada Tao. Ya, sosok mungil dan cantik tersebut adalah Xi Luhan, namja keturunan korea-china. Pintar beladiri, sama seperti adiknya Huang Zitao. Luhan anak sulung dari keluarganya. Kedua orang tua mereka sudah meninggal, dan sekarang dia tinggal di distrik kecil dekat kota Seoul, dengan kakak angkatnya. Dan mereka membentuk sebuah organisasi rahasia. Mereka adalah pengawal sewaan. Jika menganggur (?) mereka akan menjaga keamanan di daerahnya sendiri. Tidak ada yang berani membuat onar di daerah itu. Kecuali mereka yang belum tahu siapa Luhan, Tao dan kakak angkatnya itu.
.
.
.
"Tao, Luhan, kalian darimana? Ini sudah waktunya makan malam."
Seorang namja jangkung menyambut kedatangan dua adik kesayangannya. Dia terlihat sedang sibuk menyiapkan beberapa piring beserta isinya di meja makan.
"Mian Kris hyung. Tadi aku sedikit ada hambatan di jalan."
Luhan menimpali pertanyaan kakaknya sembari merebahkan tubuh mungilnya di sofa.
"Hyung, Luhan gege membereskan satu orang lagi. Dia mau merampok di daerah kita tadi. Luhan gege keren…"
Tao antusias bercerita sambil meraih makan. Namun sebelum sempat menyentuh makanannya, tangan Kris menyambar piringnya terlebih dahulu.
"Mandilah dulu Huang Zitao. Luhan, kau juga. Aku tunggu kalian 15 menit lagi di meja makan."
"Ne hyung…" Luhan dan Tao menyahut berbarengan.
.
.
.
Kris terlihat sedang asyik menonton berita di televisi. Luhan dan Tao yang selesai mencuci piringpun menghampiri kakaknya itu.
"Ada acara apa hyung? Sepertinya kau serius sekali." Luhan menduduki tempat kosong di samping kiri Kris. Dan Tao lebih memilih bermain ponsel miliknya di lantai.
"Luhan kau lihat? Orang yang ada di layar itu. Seorang remaja keturunan salah satu orang terkaya di Korea." Kris menunjuk satu titik di layar televisi. Luhan memandangnya.
"Namja berwajah pucat itu? Kenapa hyung?"
"Dia klien kita selanjutnya." Kris berujar sambil mengangguk mantap. Kemudian di mengambil sebuah map yang tergeletak di samping kanannya dan menyerahkannya pada Luhan.
"Ini adalah seluruh data dan jadwal klien kita itu."
"Aku saja? Bagaimana dengan Tao? Dia tidak ikut hyung?" Kris menggeleng. Luhan kaget. Kenapa hanya dia yang diberi tugas kali ini. Biasanya dia akan mengawal seseorang bersama Tao.
"Dia orang yang sangat penting Lu dan orangnya sangat tertutup. Aku kira Tao tidak akan cocok berada disana." Kris mencoba menjawab dengan bijak. Namun Luhan masih kelihatan tidak terima dengan pernyataan Kris.
"Lalu kenapa hyung mengajukan diriku?"
"Karena aku yakin kau akan bisa menangani semua ini Lu. Aku percaya padamu." Kris menepuk bahu Luhan pelan. Berusaha meyakinkan adiknya bahwa dia mampu melaksanakannya dengan baik. Dan Luhan yang menerima kepercayaan itu mulai mengangguk pelan.
"Ne…arasseo. Ini kewajibanku kan. Sepertinya anak itu terlihat ramah. Yah setidaknya aku bolehkan berharap begitu."
"Tentu saja." Kris mengangguk pelan sambil tersenyum bijak. Luhan memang adiknya yang penurut. Lalu Tao ikut menyemangati gegenya.
"Semangat Xi Luhan. Jangan permalukan keluarga kita." Luhan yang mendengar Tao memanggilnya tanpa embel2 hyung lalu mengarahkan tatapan membunuhnya pada Tao.
"Sudahkah kubilang aku akan mencopot kepalamu ketika kau memanggilku tanpa embel2 'gege' HUANG ZITAO!" Luhan bersiap mengejar tao yang sebelumnya sudah melarikan diri dan masuk kekamarnya. Kris hanya geleng2 melihat kelakuan 2 adik kesayangannya itu.
.
.
.
"Apa2an ini? Sekolah, kursus, urusan bisnis. Mana jadwal bersantai? Mana jadwal bermain? Dia manusia atau robot sih?" Luhan terlihat mengacak2 isi sebuah map; kertas yang tadinya rapi di dalam map itu kini sudah berhamburan diatas kasur Luhan.
"Kalau begini aku juga yang repot tidak bisa beristirahat. Hah.." Luhan menghempaskan tubuhnya di kasur. Memejamkan mata, bukan tertidur.
"Ada ya orang seperti itu? Apa dia tidak tertekan? Apa dia tidak lelah dengan semua itu? Bahkan aku yang hanya tahu dari kertas2 itu saja sudah malas melakukan hal2 membosankan itu." Luhan membuka matanya. Lalu menata kembali kertas2 yang sudah ia bubarkan tadi dan memasukkan ke dalam map dan tas ranselnya.
"Oh Tuhan. Lalu jam berapa aku harus pulang kesini. Jadwalnya selesai pukul 10. Astaga… selamat datang tugas baru. Jiayou Xi Luhan."
.
.
.
Xi Luhan melangkahkan kakinya ke sebuah rumah yang megah. Bercat putih dengan halaman yang sangat luas. Beberapa mobil berjejer di garasi dan halaman rumah tersebut.
"Rumah atau istana ya? Sayang bukan rumahku. Aku ini seperti 'maid'. Tugasku melayani tuan rumah. Menjaga si tuan muda itu. Semoga yang aku harapkan benar. Dia orang yang ramah."
Luhan melangkahkan kakinya masuk. Sampai di depan pintu, sebelum sempat mengetuk, pintu yang besar itu terbuka. Mata Luhan menangkap sosok namja yang cukup tinggi.
"An..annyeonghaseyo. Xi Luhan imnida. Mulai hari ini saya bertugas disini tuan." Luhan membungkuk sopan dan memperkenalkan dirinya. Namja tadi hanya terheran2 melihat tingkah laku Luhan. Lalu dia mulai berbicara sambil menunjuk Luhan.
"Neo…pengawal baru?"
"Ne…jadi bisakah…" Sebelum Luhan menyelesaikan kalimatnya, namja itu terlebih dulu memotongnya.
"Wow, aku suka gayamu. Tapi sungguh, kau tidak cocok menjadi pengawal." Namja itu mendekatkan wajahnya pada Luhan.
"Xi Luhan, kau lebih cocok jadi asisten pribadiku." Luhan memundurkan sedikit wajahnya. Tapi namja itu tetap saja mendekat pada wajahnya.
"Ta…tapi…aku sudah.."
"Yah! Jongin, apa yang kau lakukan di depan pintu hah?" Suara berat itu membuat namja didepan Luhan kembali menegakkan tubuhnya dan menjauhi Luhan. Luhan hanya berusaha menengok orang yang tadi 'menyelamatkan'-nya. Ya, menyelamatkan dari namja mesum di depannya itu.
TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar