Tittle : I'M YOUR PATRON
Author : sehuna_na
Rating : T
Genre : Yaoi (ga suka, ga usah baca), Romance (gagal), Action (lebih gagal)
Length : Chaptered (5 of ?)
Main Cast : Find it by ur self
Disclaimer: The casts belong to their God (and me), this fic belongs to my self
Warning : OOC, typo[s], alur berantakan, hancur, lebay, ga jelas…
Previous Chapter
“Kau…” Sehun mulai berbicara sambil mempersempit jarak antara dirinya dan Luhan. Luhan masih saja panic dan memundurkan kembali wajahnya dari Sehun.
“Se…Sehun. Kau…apa yang mau kau lakukan?”
I'm Your Patron | Chapter 6 (last Chapter)
“Kau….seperti ahjumma2 yang doyan ngomel Lu.” Sehun menjauhkan wajahnya. Sepertinya Luhan sudah benar2 ketakutan. Luhan yang melihat Sehun menjauh menghela nafas panjang. Lega. Sehun mengambil jam tangan dilacinya dan memakainya. Lalu dia kembali melihat tampilan dirinya di cermin.
“Lu, haruskah aku ikut acara ini? Entahlah. Aku hanya…”
Grep…
Kini sepasang tangan mungil merengkuh Sehun dari belakang. Sehun tersenyum.
“Sehun tidak akan kenapa2. Aku yang akan menjaga Sehun. Kau mungkin sedikit nervous.”
“Benarkah?” Wajah Sehun terlihat murung. Lalu dia membalikkan badannya menatap Luhan. Sehun memegang kedua bahu Luhan.
“Sejujurnya aku ingin melewatkan malam ini bersamamu Lu. Tapi, maaf, kita ada acara.”
“Gwaenchana Sehun. Bukankah aku ikut bersamamu?” Luhan melempar senyum manis pada Sehun.
.
.
.
Suasana restoran makan malam kali ini benar2 elegan. Bertempat di sebuah restoran salah satu hotel berbintang 5. Luhan yang berjalan disamping Sehun sedari tadi hanya membelalakkan mata mengagumi pemandangan disekelilingnya. Mereka sudah sampai di salah satu ruangan tempat acara makan malam itu diadakan.
“Lu, ayo kita masuk.” Sehun menarik tangan Luhan memasuki ruangan. Namun Luhan menahan tangan Sehun.
“Apa aku tidak apa2 masuk bersama Sehun?”
“Tentu saja. Kau kan pengawalku.” Luhan menurut kata2 Sehun. Entahlah, dia hanya merasa atmosfer di tempat ini sangat tidak nyaman. Setidaknya dia harus waspada. Luhan sudah berjaga2. Pistol semiotomatis sudah siap meledakkan kepala seseorang jika berani macam2 padanya dan Sehun.
“Selamat datang tuan muda Oh. Senang berjumpa dengan anda.” Seorang namja paruh baya berkacamata mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sehun. Luhan yang berdiri di samping Sehun merasakan aura aneh di tempat itu.
“Terima kasih undangan makan malamnya tuan Lee Sooman. Ayah saya pasti senang koleganya mengundangnya makan malam. Tapi sayangnya, beliau masih di Denmark sehingga tidak bisa hadir.”
“Aku sudah sangat senang putranya bersedia makan malam denganku. Silahkan duduk.” Ahjussi yang bernama Lee Sooman mempersilahkan Sehun duduk. Namun tidak untuk Luhan. Ya, dia pengawal. Para pengawal Sooman juga tidak duduk. Ada dua orang disitu. Masing2 disisi kanan dan kiri Sooman. Selebihnya tidak ada orang lain.
Sooman membuka pembicaraan dengan bertanya2 kegiatan Sehun saat ini, dan berlanjut ke hal2 bisnis yang ternyata Sehun juga menguasainya. Luhan tersenyum melihat Sehun. Bukankah tuan muda-nya itu sangat keren. Dia sebenarnya pintar dalam urusan bernegosiasi dan membahas masalah bisnis.
“Ternyata putra tunggal keluarga Oh benar2 pandai dan berbakat. Senang bisa mengobrol denganmu tuan muda Sehun.”
“Anda terlalu memuji, saya masih belum terlalu mengerti Tuan Lee. Ayah saya jauh lebih berpengalaman daripada saya.” Sooman hanya terkekeh mendengar jawaban Sehun. Lalu seorang pelayan wanita datang membawa 2 gelas dan sebotol red wine. Pelayan menuangkan wine di gelas Sooman terlebih dulu. Lalu selanjutnya menuangkannya ke gelas Sehun.
“Mari bersulang demi kesuksesan kita tuan muda Sehun.” Sooman mengangkat gelasnya dan mengajak Sehun untuk toast. Sehun hanya menganggguk dan ikut mengangkat gelas.
Cklek…
Tiba2 saja terdengar tarikan pelatuk dari sebuah pistol.
“Lu…” Sehun mengarahkan pandangannya pada Luhan yang kini sudah mengarahkan pistolnya pada Sooman. Sekali tarikan mungkin saja peluru menembus kepala ahjussi itu.
“Jangan minum Sehun. Letakkan gelas itu.” Suara Luhan terdengar dingin. Matanya hanya focus pada sasaran di depannya.
“Oh, ternyata anda memiliki pengawal yang tidak sopan tuan muda. Dia berani mengarahkan pistolnya padaku.”
“Wine itu. Ah bukan, gelas itu. Gelas yang akan dipakai Sehun sudah kau lumuri dengan racun. Aku tidak segan2 meledakkan kepalamu tuan Lee Sooman jika kau berani macam2 untuk mencelakai Sehun.” Luhan menyadari bahwa gelas Sehun diberi racun karena setelah wine dituang, terjadi reaksi aneh pada wine tersebut. Setelah dituang, wine sedikit berbusa putih.
“Lu…kau?”
“Sehun menyingkirlah. Dia bukan orang baik2.” Luhan menyuruh Sehun berdiri dibelakangnya. Tiba2 saja Sooman terkekeh.
“Kau hebat Oh Sehun. Memilih pengawal yang cerdik. Sayangnya aku lebih cerdik darimu.” Kedua pengawal Sooman mengeluarkan senjata. Satu mengeluarkan pistol, dan satu lagi mengeluarkan belati.
“Sooman, kau…” Sehun yang masih terduduk di kursinya tidak terlalu kaget terjebak dalam situasi ini.
“Bagaimana Sehun? Aku kira penyerangan dulu bisa membuatmu mati dan orang tuamu akan bersedih kemudian mengakibatkan perusahaannya bangkrut dan itu akan menaikkan kembali reputasiku yang telah mereka hancurkan. Tapi menyedihkan, ternyata kau masih hidup.”
Luhan kaget. Jadi orang ini otak penyerangan Sehun waktu itu. Luhan mengeratkan pegangannya pada tuas pistolnya.
“Jadi kau yang ingin membunuh Sehun? Alasan bisnis?” Luhan menahan amarah disetiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Coba tidak ada kau pengawal sialan, aku pasti sudah bisa membunuh Sehun.”
“Anak buahmu yang bodoh tuan Lee. Membunuhkupun tidak sanggup.” Sehun menimpali pernyataan Sooman.
“Sudah cukup berdebatnya. Kali ini kupastikan kalian berdua menjemput ajal mala mini. Habisi mereka.” Sooman memberi aba2. Saat itu juga, kedua pengawalnya menyerang Sehun dan Luhan.
“Sehun menunduk.” Sehun menjatuhkan tubuhnya dari kursinya.
Dor…
Satu tembakan melayang kea rah Luhan. Namun dengan sigap Luhan mampu menghindarinya, dan membalas dengan melayangkan tembakan.
Dor…
Kali ini tembakan Luhan tidak tepat. Seorang lagi bersiap melawan Sehun. Dia mengacungkan belatinya pada Sehun. Sehun menangkisnya dengan botol wine yang dia raih. Dan pelayan wanita tadi juga merupakan anak buah Sooman. Dia menginjak tangan Sehun. Sehun kesakitan. Orang yang tadi memegang belati bersiap menusuk Sehun.
“Sehun!!!”
Dor…
Kali ini tembakan Luhan tepat mengenai lengan namja ber-belati tadi. Dan belati tersebut terlempar. Dengan segera Sehun bangkit dan menjegal kaki pelayan wanita tadi hingga jatuh tersungkur. Lalu menendang namja yang terluka akibat tembakan Luhan tadi. Namja itu ikut jatuh tersungkur. Lalu pelayan wanita tadi menghampiri Sehun. Namun Sehun lebih cepat. Dia menangkis pukulan wanita itu, dan menguntir tangannya kebelakang.
“Maaf, sebenarnya aku tidak memukul wanita. Ini terpaksa.” Sehun bergumam. Lalu dia memukul tengkuk wanita itu dan membuatnya pingsan. Sooman mulai ketakutan ketika anak buahnya hanya tinggal satu yang masih sanggup bertahan. Dia mengambil sesuatu di saku celananya.
Dor…
Tembakan kembali melayang kea rah Luhan. Luhan kehabisan peluru, dia bersembunyi dibalik meja.
"Sial. Aku tidak membawa peluru tambahan.” Luhan membuang pistolnya. Lalu melempar sebuah kursi kea rah lawan.
Dor…
Luhan mencoba mengecoh lawannya dengan berdiri. Lalu merunduk tiba2. Kaget, sang lawan kembali melesatkan peluru kea rah Luhan.
Dor…
“Habis…” Gumam Luhan sambil menyeringai. Dia kembali berdiri. Lalu melangkah maju. Lawannya kembali menarik pelatuk berulang kali. Namun tak ada satupun peluru melesat kea rah Luhan.
“Pelurumu sudah habis. Aku hafal tipe pistolmu. Dan silahkan kau menarik pelatuk sepuasnya. Tidak akan ada peluru yang akan menyentuhku.” Luhan bersiap. Mengambil kuda2 lalu melayangkan sebuah pukulan kearah wajah lawannya dan satu tendangan yang mengarah ke dada. Lawan Luhan tersungkur tidak berdaya.
“Pengawal bodoh. Berhenti disitu.” Suara Sooman menarik perhatian. Dan alangkah terkejutnya Luhan ketika sebuah belati kini mengarah tepat ke leher Sehun. Siap mengoyak kulit Sehun. Entahlah bagaimana bisa kini Sehun berada di tangan Sooman.Luhan tidak mau kejadian dulu terulang. Sehun terluka.
“Hentikan. Jangan sentuh Sehun.”
“Hahaha…seenaknya saja kau memerintahku.” Sooman tertawa.
“Kumohon lepaskan Sehun.”
“Lu…pergilah. Aku tidak apa2. Pergilah…” Sehun masih sempat tersenyum pada Luhan. Dan mana mungkin Luhan mau menuruti perintah bodoh Sehun meninggalkannya. Jarak Sooman dan Luhan hanya 5 langkah saja. Luhan berpikir keras. Mencari timing yang tepat untuk menyelamatkan Sehun tanpa melukai Sehun.
“Baiklah aku akan pergi Sehun.”
“Jadi sampai disini kesetiaan pengawal pada tuannya?” Sooman tertawa. Luhan berbalik. Namun dengan cepat dia kembali dan berlari menghampiri Sooman dan melayangkan tendangan kea rah perut Sooman. Perfect timing. Sooman terpental kebelakang. Kini Sehun bebas. Luhan hanya ngos2an. Dia melihat Sehun yang baik2 saja.
“Syukurlah Sehun baik2 saja.” Luhan tersenyum manis pada Sehun. Namun wajah Sehun mendadak panic. Sooman bersiap menusuk Luhan dari belakang tanpa Luhan sadari.
“Luhan!!!” Sehun berusaha menjangkau Luhan.
Set…
Pisau itu menggores lehernya. Sooman tertawa puas. Namun hanya sebentar ketika polisi memasuki ruangan itu. Terlihat Jongin –Luhan memberitahunya lewat pesan singkat- bersama mereka. Salah satu polisi menembak lengan Sooman. Dan orang itu tersungkur.
“Lu…Luhan…” Sehun panic. Ya, pisau yang dilayangkan Sooman mengenai Luhan. Kali ini Sehun terlambat melindungi Luhan. Darah mulai mengalir dari leher Luhan.
“Luhan…ireona! Bangunlah…jangan membuatku takut.” Sehun mengguncang tubuh Luhan. Luhan membuka matanya.
“Sehun…gwaenchana? Ka…kau…tidak terluka kan? Syukurlah, aku senang Sehun baik2 saja.” Tangan Luhan mengelus lemah pipi Sehun. Lalu tubuhnya terkulai.
“Lu…..” Sehun hanya bisa berteriak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia menangis.
.
.
.
“Ayah, ibu…”
“Luhan… apa kabar? Kami merindukanmu sayang.”
“Luhan baik2 saja. Kalian lihat kan?”
“Kau sudah besar sekarang.” Ibu Luhan mengelus pipi anaknya. Luhan tersenyum bahagia. Mengahambur ke pelukan ayah ibunya.
“Lu…”
.
.
.
“Lu, bangunlah.” Kris mengelus pipi Luhan pelan. Berharap dengan sentuhannya, adik kesayangannya itu akan bangun. Tao yang sedari tadi berada disamping Kris hanya menangis memanggil2 Luhan.
“Luhan gege, ireona!” Tao mengguncang2 tubuh kakaknya. Namun tetap saja diam tak ada gerakan.
“Mi…mianhaeyo Kris hyung, Tao hyung. Ini semua kesalahanku.” Sehun mendekati kedua orang itu. Matanya masih sembab setelah semalaman menangis. Kris yang melihat keadaan Sehun, berdiri dan memegang pundak Sehun.
“Jangan salahkan dirimu. Itu bukan salahmu, Sehun. Resiko tugas Luhan.”
“Kami tidak menyalahkanmu Sehun.” Tao berujar bijak. Meskipun dia sangat sedih. Sehun hanya menunduk. Sesekali ia melirik kea rah Luhan. Dan kembali menitikkan air mata.
.
.
.
“Lu…kau tidak mau bangun? Kau pucat. Apa kau tidak lapar? Tidak haus? Bangunlah, aku menunggumu.” Sehun menggumam lembut di telinga Luhan. Jongin yang melihatnya tidak tega. Dia hanya mampu menepuk pundak sahabatnya itu dan menatap Luhan.
“Luhan, kumohon bangunlah. Apa kau tega melihat Sehun seperti ini.” Lalu Jongin melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan Sehun dan Luhan.
“Lu, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkanmu seperti dulu. Sepertinya rasa sakitku dulu, belum ada apa2nya dibanding yang kau terima. Maafkan aku.”
“Lu, aku merindukan omelanmu yang seperti ahjumma itu. Hiks…” Sehun menangis. Entahlah, sudah berapa kali air matanya tak sanggup ia tahan. Seorang Sehun yang terlihat dingin seperti gunung es, kini hanya manusia biasa yang bisa menangis ketika orang yang dia sayangi terluka, atau bahkan bisa saja meninggalkannya.
“Lu…kau pernah mendengar kisah putri tidur? Dia tertidur sangat sangat lama.” Sehun bergumam. Lalu dia mengusap kembali matanya yang kembali berair.
“Kau cantik. Apa kau jelmaan putri tidur eum?”
“Dan kau tahu, dia akan bangun ketika pangeran menciumnya.”
“Bolehkah aku jadi pangeran dan kau putrinya? Kau terlalu cantik untuk menjadi namja.” Sehun memaksakan senyum terulas dibibirnya. Dia menggenggam tangan Luhan erat. Menciumnya.
“Lu…aku merindukanmu. Sungguh…” Sehun berdiri. Dia menatap wajah Luhan lembut. Mengusap surai coklatnya. Mengelus pipinya. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Mengecup pelan keningnya. Kedua kelopak mata Luhan, lalu hidung bangir milik Luhan. Sehun menarik wajahnya sedikit menjauh dan bergumam.
“Xi Luhan, wo ai ni.” Lalu Sehun memejamkan mata dan mengecup bibir pucat Luhan selembut mungkin. Butiran bening kembali mengalir dari kelopak mata Sehun, dan kali ini ikut membasahi pipi Luhan.
.
.
.
“Oh Sehun. Hari ini waktunya kau kursus. Cepat bangun dari tempat tidurmu.”
“Ne ne, arasseo.” Luhan menarik tangan Sehun untuk bangun. Namun dengan sekali tarikan Luhan terjatuh dipelukan Sehun.
“Berhentilah mengomel seperti ahjumma Xi Luhan.” Sehun mencium pipi Luhan lalu berdiri dan bangun dari posisinya.
“Oh Sehun!!!”
.
.
.
“Uhuk..uhuk…” Sehun membuka matanya. Lalu melepaskan bibirnya menjauh. Namja mungil itu terbatuk. Dia bangun.
“Luhan…kau bangun.”
“Uhuk…uhuk…sesak…” Sehun tidak percaya. Namja yang dia cintai kini membuka matanya.
“Se…Sehun…Kau kenapa?” Luhan mengangkat tangannya. Meraba wajah Sehun yang sembab. Itu terlihat aneh di mata Luhan.
“Aku senang kau bangun.” Sehun tersenyum lalu memeluk namja di depannya.
.
.
.
“Ibu…aku menyukai seseorang.”
“Siapa Luhan?”
“Tuan muda yang kasar dan dingin. Tapi dia baik. Dia menyelamatkan nyawaku. Aku sangat ingin berada disampingnya dan melindunginya.”
“Kalau begitu datang padanya sekarang.”
“Tapi aku masih rindu pada ibu dan ayah.”
“Kita bisa bertemu lain kali Luhan. Sekarang, pergilah dan lindungi apa yang kau anggap berharga.”
“Jinjja. Kalau begitu aku harus segera menemuinya. Xie xie ibu, ayah. Aku akan sangat merindukan kalian….”
FIN.
Author : sehuna_na
Rating : T
Genre : Yaoi (ga suka, ga usah baca), Romance (gagal), Action (lebih gagal)
Length : Chaptered (5 of ?)
Main Cast : Find it by ur self
Disclaimer: The casts belong to their God (and me), this fic belongs to my self
Warning : OOC, typo[s], alur berantakan, hancur, lebay, ga jelas…
Previous Chapter
“Kau…” Sehun mulai berbicara sambil mempersempit jarak antara dirinya dan Luhan. Luhan masih saja panic dan memundurkan kembali wajahnya dari Sehun.
“Se…Sehun. Kau…apa yang mau kau lakukan?”
I'm Your Patron | Chapter 6 (last Chapter)
“Kau….seperti ahjumma2 yang doyan ngomel Lu.” Sehun menjauhkan wajahnya. Sepertinya Luhan sudah benar2 ketakutan. Luhan yang melihat Sehun menjauh menghela nafas panjang. Lega. Sehun mengambil jam tangan dilacinya dan memakainya. Lalu dia kembali melihat tampilan dirinya di cermin.
“Lu, haruskah aku ikut acara ini? Entahlah. Aku hanya…”
Grep…
Kini sepasang tangan mungil merengkuh Sehun dari belakang. Sehun tersenyum.
“Sehun tidak akan kenapa2. Aku yang akan menjaga Sehun. Kau mungkin sedikit nervous.”
“Benarkah?” Wajah Sehun terlihat murung. Lalu dia membalikkan badannya menatap Luhan. Sehun memegang kedua bahu Luhan.
“Sejujurnya aku ingin melewatkan malam ini bersamamu Lu. Tapi, maaf, kita ada acara.”
“Gwaenchana Sehun. Bukankah aku ikut bersamamu?” Luhan melempar senyum manis pada Sehun.
.
.
.
Suasana restoran makan malam kali ini benar2 elegan. Bertempat di sebuah restoran salah satu hotel berbintang 5. Luhan yang berjalan disamping Sehun sedari tadi hanya membelalakkan mata mengagumi pemandangan disekelilingnya. Mereka sudah sampai di salah satu ruangan tempat acara makan malam itu diadakan.
“Lu, ayo kita masuk.” Sehun menarik tangan Luhan memasuki ruangan. Namun Luhan menahan tangan Sehun.
“Apa aku tidak apa2 masuk bersama Sehun?”
“Tentu saja. Kau kan pengawalku.” Luhan menurut kata2 Sehun. Entahlah, dia hanya merasa atmosfer di tempat ini sangat tidak nyaman. Setidaknya dia harus waspada. Luhan sudah berjaga2. Pistol semiotomatis sudah siap meledakkan kepala seseorang jika berani macam2 padanya dan Sehun.
“Selamat datang tuan muda Oh. Senang berjumpa dengan anda.” Seorang namja paruh baya berkacamata mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sehun. Luhan yang berdiri di samping Sehun merasakan aura aneh di tempat itu.
“Terima kasih undangan makan malamnya tuan Lee Sooman. Ayah saya pasti senang koleganya mengundangnya makan malam. Tapi sayangnya, beliau masih di Denmark sehingga tidak bisa hadir.”
“Aku sudah sangat senang putranya bersedia makan malam denganku. Silahkan duduk.” Ahjussi yang bernama Lee Sooman mempersilahkan Sehun duduk. Namun tidak untuk Luhan. Ya, dia pengawal. Para pengawal Sooman juga tidak duduk. Ada dua orang disitu. Masing2 disisi kanan dan kiri Sooman. Selebihnya tidak ada orang lain.
Sooman membuka pembicaraan dengan bertanya2 kegiatan Sehun saat ini, dan berlanjut ke hal2 bisnis yang ternyata Sehun juga menguasainya. Luhan tersenyum melihat Sehun. Bukankah tuan muda-nya itu sangat keren. Dia sebenarnya pintar dalam urusan bernegosiasi dan membahas masalah bisnis.
“Ternyata putra tunggal keluarga Oh benar2 pandai dan berbakat. Senang bisa mengobrol denganmu tuan muda Sehun.”
“Anda terlalu memuji, saya masih belum terlalu mengerti Tuan Lee. Ayah saya jauh lebih berpengalaman daripada saya.” Sooman hanya terkekeh mendengar jawaban Sehun. Lalu seorang pelayan wanita datang membawa 2 gelas dan sebotol red wine. Pelayan menuangkan wine di gelas Sooman terlebih dulu. Lalu selanjutnya menuangkannya ke gelas Sehun.
“Mari bersulang demi kesuksesan kita tuan muda Sehun.” Sooman mengangkat gelasnya dan mengajak Sehun untuk toast. Sehun hanya menganggguk dan ikut mengangkat gelas.
Cklek…
Tiba2 saja terdengar tarikan pelatuk dari sebuah pistol.
“Lu…” Sehun mengarahkan pandangannya pada Luhan yang kini sudah mengarahkan pistolnya pada Sooman. Sekali tarikan mungkin saja peluru menembus kepala ahjussi itu.
“Jangan minum Sehun. Letakkan gelas itu.” Suara Luhan terdengar dingin. Matanya hanya focus pada sasaran di depannya.
“Oh, ternyata anda memiliki pengawal yang tidak sopan tuan muda. Dia berani mengarahkan pistolnya padaku.”
“Wine itu. Ah bukan, gelas itu. Gelas yang akan dipakai Sehun sudah kau lumuri dengan racun. Aku tidak segan2 meledakkan kepalamu tuan Lee Sooman jika kau berani macam2 untuk mencelakai Sehun.” Luhan menyadari bahwa gelas Sehun diberi racun karena setelah wine dituang, terjadi reaksi aneh pada wine tersebut. Setelah dituang, wine sedikit berbusa putih.
“Lu…kau?”
“Sehun menyingkirlah. Dia bukan orang baik2.” Luhan menyuruh Sehun berdiri dibelakangnya. Tiba2 saja Sooman terkekeh.
“Kau hebat Oh Sehun. Memilih pengawal yang cerdik. Sayangnya aku lebih cerdik darimu.” Kedua pengawal Sooman mengeluarkan senjata. Satu mengeluarkan pistol, dan satu lagi mengeluarkan belati.
“Sooman, kau…” Sehun yang masih terduduk di kursinya tidak terlalu kaget terjebak dalam situasi ini.
“Bagaimana Sehun? Aku kira penyerangan dulu bisa membuatmu mati dan orang tuamu akan bersedih kemudian mengakibatkan perusahaannya bangkrut dan itu akan menaikkan kembali reputasiku yang telah mereka hancurkan. Tapi menyedihkan, ternyata kau masih hidup.”
Luhan kaget. Jadi orang ini otak penyerangan Sehun waktu itu. Luhan mengeratkan pegangannya pada tuas pistolnya.
“Jadi kau yang ingin membunuh Sehun? Alasan bisnis?” Luhan menahan amarah disetiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Coba tidak ada kau pengawal sialan, aku pasti sudah bisa membunuh Sehun.”
“Anak buahmu yang bodoh tuan Lee. Membunuhkupun tidak sanggup.” Sehun menimpali pernyataan Sooman.
“Sudah cukup berdebatnya. Kali ini kupastikan kalian berdua menjemput ajal mala mini. Habisi mereka.” Sooman memberi aba2. Saat itu juga, kedua pengawalnya menyerang Sehun dan Luhan.
“Sehun menunduk.” Sehun menjatuhkan tubuhnya dari kursinya.
Dor…
Satu tembakan melayang kea rah Luhan. Namun dengan sigap Luhan mampu menghindarinya, dan membalas dengan melayangkan tembakan.
Dor…
Kali ini tembakan Luhan tidak tepat. Seorang lagi bersiap melawan Sehun. Dia mengacungkan belatinya pada Sehun. Sehun menangkisnya dengan botol wine yang dia raih. Dan pelayan wanita tadi juga merupakan anak buah Sooman. Dia menginjak tangan Sehun. Sehun kesakitan. Orang yang tadi memegang belati bersiap menusuk Sehun.
“Sehun!!!”
Dor…
Kali ini tembakan Luhan tepat mengenai lengan namja ber-belati tadi. Dan belati tersebut terlempar. Dengan segera Sehun bangkit dan menjegal kaki pelayan wanita tadi hingga jatuh tersungkur. Lalu menendang namja yang terluka akibat tembakan Luhan tadi. Namja itu ikut jatuh tersungkur. Lalu pelayan wanita tadi menghampiri Sehun. Namun Sehun lebih cepat. Dia menangkis pukulan wanita itu, dan menguntir tangannya kebelakang.
“Maaf, sebenarnya aku tidak memukul wanita. Ini terpaksa.” Sehun bergumam. Lalu dia memukul tengkuk wanita itu dan membuatnya pingsan. Sooman mulai ketakutan ketika anak buahnya hanya tinggal satu yang masih sanggup bertahan. Dia mengambil sesuatu di saku celananya.
Dor…
Tembakan kembali melayang kea rah Luhan. Luhan kehabisan peluru, dia bersembunyi dibalik meja.
"Sial. Aku tidak membawa peluru tambahan.” Luhan membuang pistolnya. Lalu melempar sebuah kursi kea rah lawan.
Dor…
Luhan mencoba mengecoh lawannya dengan berdiri. Lalu merunduk tiba2. Kaget, sang lawan kembali melesatkan peluru kea rah Luhan.
Dor…
“Habis…” Gumam Luhan sambil menyeringai. Dia kembali berdiri. Lalu melangkah maju. Lawannya kembali menarik pelatuk berulang kali. Namun tak ada satupun peluru melesat kea rah Luhan.
“Pelurumu sudah habis. Aku hafal tipe pistolmu. Dan silahkan kau menarik pelatuk sepuasnya. Tidak akan ada peluru yang akan menyentuhku.” Luhan bersiap. Mengambil kuda2 lalu melayangkan sebuah pukulan kearah wajah lawannya dan satu tendangan yang mengarah ke dada. Lawan Luhan tersungkur tidak berdaya.
“Pengawal bodoh. Berhenti disitu.” Suara Sooman menarik perhatian. Dan alangkah terkejutnya Luhan ketika sebuah belati kini mengarah tepat ke leher Sehun. Siap mengoyak kulit Sehun. Entahlah bagaimana bisa kini Sehun berada di tangan Sooman.Luhan tidak mau kejadian dulu terulang. Sehun terluka.
“Hentikan. Jangan sentuh Sehun.”
“Hahaha…seenaknya saja kau memerintahku.” Sooman tertawa.
“Kumohon lepaskan Sehun.”
“Lu…pergilah. Aku tidak apa2. Pergilah…” Sehun masih sempat tersenyum pada Luhan. Dan mana mungkin Luhan mau menuruti perintah bodoh Sehun meninggalkannya. Jarak Sooman dan Luhan hanya 5 langkah saja. Luhan berpikir keras. Mencari timing yang tepat untuk menyelamatkan Sehun tanpa melukai Sehun.
“Baiklah aku akan pergi Sehun.”
“Jadi sampai disini kesetiaan pengawal pada tuannya?” Sooman tertawa. Luhan berbalik. Namun dengan cepat dia kembali dan berlari menghampiri Sooman dan melayangkan tendangan kea rah perut Sooman. Perfect timing. Sooman terpental kebelakang. Kini Sehun bebas. Luhan hanya ngos2an. Dia melihat Sehun yang baik2 saja.
“Syukurlah Sehun baik2 saja.” Luhan tersenyum manis pada Sehun. Namun wajah Sehun mendadak panic. Sooman bersiap menusuk Luhan dari belakang tanpa Luhan sadari.
“Luhan!!!” Sehun berusaha menjangkau Luhan.
Set…
Pisau itu menggores lehernya. Sooman tertawa puas. Namun hanya sebentar ketika polisi memasuki ruangan itu. Terlihat Jongin –Luhan memberitahunya lewat pesan singkat- bersama mereka. Salah satu polisi menembak lengan Sooman. Dan orang itu tersungkur.
“Lu…Luhan…” Sehun panic. Ya, pisau yang dilayangkan Sooman mengenai Luhan. Kali ini Sehun terlambat melindungi Luhan. Darah mulai mengalir dari leher Luhan.
“Luhan…ireona! Bangunlah…jangan membuatku takut.” Sehun mengguncang tubuh Luhan. Luhan membuka matanya.
“Sehun…gwaenchana? Ka…kau…tidak terluka kan? Syukurlah, aku senang Sehun baik2 saja.” Tangan Luhan mengelus lemah pipi Sehun. Lalu tubuhnya terkulai.
“Lu…..” Sehun hanya bisa berteriak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia menangis.
.
.
.
“Ayah, ibu…”
“Luhan… apa kabar? Kami merindukanmu sayang.”
“Luhan baik2 saja. Kalian lihat kan?”
“Kau sudah besar sekarang.” Ibu Luhan mengelus pipi anaknya. Luhan tersenyum bahagia. Mengahambur ke pelukan ayah ibunya.
“Lu…”
.
.
.
“Lu, bangunlah.” Kris mengelus pipi Luhan pelan. Berharap dengan sentuhannya, adik kesayangannya itu akan bangun. Tao yang sedari tadi berada disamping Kris hanya menangis memanggil2 Luhan.
“Luhan gege, ireona!” Tao mengguncang2 tubuh kakaknya. Namun tetap saja diam tak ada gerakan.
“Mi…mianhaeyo Kris hyung, Tao hyung. Ini semua kesalahanku.” Sehun mendekati kedua orang itu. Matanya masih sembab setelah semalaman menangis. Kris yang melihat keadaan Sehun, berdiri dan memegang pundak Sehun.
“Jangan salahkan dirimu. Itu bukan salahmu, Sehun. Resiko tugas Luhan.”
“Kami tidak menyalahkanmu Sehun.” Tao berujar bijak. Meskipun dia sangat sedih. Sehun hanya menunduk. Sesekali ia melirik kea rah Luhan. Dan kembali menitikkan air mata.
.
.
.
“Lu…kau tidak mau bangun? Kau pucat. Apa kau tidak lapar? Tidak haus? Bangunlah, aku menunggumu.” Sehun menggumam lembut di telinga Luhan. Jongin yang melihatnya tidak tega. Dia hanya mampu menepuk pundak sahabatnya itu dan menatap Luhan.
“Luhan, kumohon bangunlah. Apa kau tega melihat Sehun seperti ini.” Lalu Jongin melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan Sehun dan Luhan.
“Lu, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkanmu seperti dulu. Sepertinya rasa sakitku dulu, belum ada apa2nya dibanding yang kau terima. Maafkan aku.”
“Lu, aku merindukan omelanmu yang seperti ahjumma itu. Hiks…” Sehun menangis. Entahlah, sudah berapa kali air matanya tak sanggup ia tahan. Seorang Sehun yang terlihat dingin seperti gunung es, kini hanya manusia biasa yang bisa menangis ketika orang yang dia sayangi terluka, atau bahkan bisa saja meninggalkannya.
“Lu…kau pernah mendengar kisah putri tidur? Dia tertidur sangat sangat lama.” Sehun bergumam. Lalu dia mengusap kembali matanya yang kembali berair.
“Kau cantik. Apa kau jelmaan putri tidur eum?”
“Dan kau tahu, dia akan bangun ketika pangeran menciumnya.”
“Bolehkah aku jadi pangeran dan kau putrinya? Kau terlalu cantik untuk menjadi namja.” Sehun memaksakan senyum terulas dibibirnya. Dia menggenggam tangan Luhan erat. Menciumnya.
“Lu…aku merindukanmu. Sungguh…” Sehun berdiri. Dia menatap wajah Luhan lembut. Mengusap surai coklatnya. Mengelus pipinya. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Mengecup pelan keningnya. Kedua kelopak mata Luhan, lalu hidung bangir milik Luhan. Sehun menarik wajahnya sedikit menjauh dan bergumam.
“Xi Luhan, wo ai ni.” Lalu Sehun memejamkan mata dan mengecup bibir pucat Luhan selembut mungkin. Butiran bening kembali mengalir dari kelopak mata Sehun, dan kali ini ikut membasahi pipi Luhan.
.
.
.
“Oh Sehun. Hari ini waktunya kau kursus. Cepat bangun dari tempat tidurmu.”
“Ne ne, arasseo.” Luhan menarik tangan Sehun untuk bangun. Namun dengan sekali tarikan Luhan terjatuh dipelukan Sehun.
“Berhentilah mengomel seperti ahjumma Xi Luhan.” Sehun mencium pipi Luhan lalu berdiri dan bangun dari posisinya.
“Oh Sehun!!!”
.
.
.
“Uhuk..uhuk…” Sehun membuka matanya. Lalu melepaskan bibirnya menjauh. Namja mungil itu terbatuk. Dia bangun.
“Luhan…kau bangun.”
“Uhuk…uhuk…sesak…” Sehun tidak percaya. Namja yang dia cintai kini membuka matanya.
“Se…Sehun…Kau kenapa?” Luhan mengangkat tangannya. Meraba wajah Sehun yang sembab. Itu terlihat aneh di mata Luhan.
“Aku senang kau bangun.” Sehun tersenyum lalu memeluk namja di depannya.
.
.
.
“Ibu…aku menyukai seseorang.”
“Siapa Luhan?”
“Tuan muda yang kasar dan dingin. Tapi dia baik. Dia menyelamatkan nyawaku. Aku sangat ingin berada disampingnya dan melindunginya.”
“Kalau begitu datang padanya sekarang.”
“Tapi aku masih rindu pada ibu dan ayah.”
“Kita bisa bertemu lain kali Luhan. Sekarang, pergilah dan lindungi apa yang kau anggap berharga.”
“Jinjja. Kalau begitu aku harus segera menemuinya. Xie xie ibu, ayah. Aku akan sangat merindukan kalian….”
FIN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar