Pengikut
Selasa, 05 Maret 2013
I'M YOUR PATRON [EXO Yaoi] | Chapter 4
Tittle : I'M YOUR PATRON
Author : sehuna_na
Rating : T
Genre : Yaoi (ga suka, ga usah baca), Romance (gagal), Action (lebih gagal)
Length : chaptered
Main Cast : Find it by ur self
Disclaimer: The casts belong to their God (and me), this fic belongs to my self
Warning : OOC, typo[s], alur berantakan, hancur, lebay, ga jelas…
**
Previous Chapter
“Ya, ini bukan pertama kalinya dia diserang seperti ini.”
“Maksudmu? Luhan masih tidak mengerti dengan pernyataan Jongin. Tentang Sehun, dan serangan.
I'M YOUR PATRON | Chapter 4
“Kau tahu kan siapa orang tua Sehun? Konglomerat yang memegang peran penting ekonomi di Korea, keluarga Oh. Itulah alasannya kau direkrut Luhan.” Jongin mulai bercerita. Luhan mulai dapat mencerna cerita Jongin.
“Banyak yang mengincar Sehun. Orang tua Sehun sendiri tidak ada di Korea. Mereka selalu berkeliling dunia. Menemui klien2nya dan tidak pernah memperhatikan Sehun. Mereka hanya menumpuk harta. Alasan yang buruk kan? Meninggalkan anak tunggalnya dengan alasan ‘demi kepentingan ekonomi bangsa’.”
“Jadi itu kenapa Sehun merasa kesepian?” Jongin hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Luhan. Luhan kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sehun yang masih belum sadar.
“Sehun dijauhi teman2 disekolahnya. Kenapa? Karena selalu saja ada kejadian aneh disekitar Sehun.”
“Kejadian aneh? Aku tidak mengerti Jongin.”
“Mungkin bagimu itu hal biasa yang sering kau hadapi. Kau tahun kejadian ketika kau melindungi Sehun dari tembakan di sekolah? Itu salah satu contohnya.”
Luhan hanya menunduk. Bukankah Sehun sangat menderita? Kasih sayang orang tua tidak didapatnya, teman2 pun dia tidak ada. Saudara juga ia tak punya. Tapi dia selalu diserang. Dia korban, meskipun sebenarnya dia tidak bersalah.
“Lalu kenapa kau mau berteman dengannya Jongin?” Luhan balik bertanya pada Jongin. Yang ditanya hanya tersenyum simpul.
“Sehun…dia itu sebenarnya anak yang rapuh. Kelihatannya dia kuat, dingin dan berkuasa. Kau tahu? Sehun itu bisa dibilang ‘penyelamat hidupku’. Aku pernah ingin dicelakai seorang temanku. Dia dendam pada ayahku. Dia menganggap ayahku tidak adil. Tapi dia melimpahkan dendamnya padaku.”
Flashback
“Ya, siapa kau?” Jongin yang sedang berjalan sepulang sekolah diserang beberapa orang. Dan mereka memakai seragam yang sama seperti yang dipakai Jongin. Tapi tetap saja Jongin tidak kenal mereka.
“Kim Jongin. Kau yang harus bertanggung jawab. Habisi dia.” Dua orang menyerang Jongin. Kedua tangannya berhasil dicengkeram oleh dua orang yang tak dikenal itu. Orang yang bisa disebut ‘ketua’ dari penyerangan itu mulai mendekati Jongin. Merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil. Sepertinya sangat tajam.
“Ap…apa yang mau kau lakukan hah?” Jongin gemetaran. Yah, manusiawi, dia takut pisau itu sewaktu2 –dan mungkin sebentar lagi- akan merobek kulitnya. Namja itu semakin dekat. Jongin berusaha melepaskan diri. Sia2. Dua orang yang meringkusnya berbadan lebih besar darinya dan tentu saja kekuatan Jongin bukan apa2 bagi mereka.
“Yah, apa maumu? Aku tidak mengenalmu. Kenapa kau harus menyerangku?” Jongin masih berusaha berargumen. Namja itu hanya tersenyum sinis dan membuka lipatan pisau ditangannya.
“Kau tak tahu siapa aku? Tanyakan pada ayahmu yang berkuasa di sekolah. Dia yang membuat semua menjadi rumit bagiku.”
“Lalu kenapa aku…”
“Ya, kau. Kau adalah putranya. Dan aku ingin merasakan putranya merasakan hal yang sama sepertiku. Dan mungkin sedikit lebih sakit.” Pisau tajam itu menyentuh leher Jongin. Kulit lehernya robek meskipun sedikit. Darah keluar dari robekan itu. Jongin meringis sakit. Perih.
“Hahaha, sakit kan? Tapi ini belum seberapa…bagaimana kalau ini merobek wajahmu yang tampan ini dan akhirnya semua temanmu menjauhimu hah?”
“Kau gila. Ayahku bisa melaporkanmu pada polisi.”
“Aku tidak takut. Kau tahu, cita2ku dihancurkan oleh ayahmu. Aku susah payah masuk ke sekolah itu. Aku mendapat beasiswa. Tapi hanya karena kesalahan kecil, dia mencabutnya dan mengeluarkanku dari sekolah. Kau tahu kan, jika aku dikeluarkan dari sekolah itu, maka tidak akan ada sekolah lain yang menerimaku. Dimanapun.”
“Tapi aku tidak tahu. Aku bisa meminta ayahku mengembalikanmu.”
“Terlambat. Aku sudah tidak ingin. Cita2ku sudah musnah. Dan kini aku ingin kau juga merasakan hal pahit yang kualami.” Namja itu bersiap menggores wajah Jongin. Namun sebuah lemparan batu mengenai tangannya sebelum sempat menyentuh Jongin.
“Pengecut seperti kalian memang pantas tak punya cita2.” Suara berat itu muncul. Seorang namja bersandar di dinding sambil memainkan batu di tangannya. Kontan saja namja yang menyerang Jongin itu marah.
“Brengsek. Jadi sekarang tuan muda Oh Sehun berani ikut campur hah?”
“Tidak, aku tidak berminat mencampuri pengecut seperti kalian. Lepaskan Jongin. Dia tidak bersalah. Kalau kau dendam pada ayahnya, pergi saja ke kantornya dan lakukan hal yang sama pada ayahnya.” Sehun menjawab datar. Lalu melangkah mendekati Jongin dan orang2 itu. Namun namja itu balik menyerang Sehun. Mengayunkan pisaunya pada Sehun. Sehun bisa menghindar, namun tidak pada serangan kedua. Pisau itu berhasil mengenai perutnya. Darah yang keluar dari tubuhnya terlihat kontras dengan seragam putihnya. Sehun masih sempat tersenyum sinis. Lalu tubuhnya ambruk. Namja yang menyerang Sehun gemetaran. Tidak menyangka tindakannya sejauh ini. Bisa saja dia membunuh Sehun.
“Oh Sehun!” Jongin yang melihat adegan itu meronta lebih keras. Dia menggigit tangan salah satu orang yang memegangnya dan menginjak kaki yang lain. Berhasil. Dia lepas dan menghampiri Sehun. Saat itu juga suara sirine mobil polisi mendekat. Sehun menelepon polisi sebelum dia bertindak. Orang2 yang menyerang Jongin berhasil diringkus polisi. Jongin hanya mendecak kesal sambil mengangkat tubuh Sehun.
“Pabo kau Sehun!”
Flashback end
Luhan yang mendengar cerita Jongin hanya diam. Tak percaya. Tuan muda yang sombong, kasar dan sok seperti Sehun bisa mengorbankan nyawanya untuk orang lain. Dan Luhan adalah salah satu dari orang itu.
“Aku sangat bangga berteman dengan Sehun. Ketika orang lain menganggapnya buruk, di mataku dia adalah orang yang baik. Meski terkadang ia tak pintar melihat situasi dan mengeluarkan perasaanya. Sehun memang bodoh.”
“Jongin, Sehun memang bodoh. Bahkan dia menolongku, orang yang baru ia kenal. Dan entahlah, aku menyukai orang bodoh itu.” Jongin menatap Luhan penuh arti, lalu tersenyum. Luhan ikut tersenyum menatap wajah Sehun. Memberanikan tangannya mengelus pipi Sehun.
“Cepatlah bangun Oh Sehun…”
.
.
.
Luhan tertidur di samping ranjang Sehun. Sedangkan Jongin terlelap di sofa. Pagi itu, sebuah tangan bergerak lemah. Sehun sadar. Ketika matanya terbuka, ia kembali meringis kesakitan. Kepalanya terasa pusing.
“Ah, pusing sekali.” Sehun mencoba bangun. Dia mencoba bersandar di kepala ranjangnya. Matanya membulat ketika melihat seseorang tertidur disamping ranjangnya.
“Luhan…” Sehun melirik ke sofa dan mendapati Jongin masih tertidur juga. Sehun tersenyum. Ternyata masih ada orang yang perhatian padanya.
“Gumawo…” Sehun berkata pelan. Lalu karena gerakan Sehun, Luhan bergerak pelan. Terbangun. Dia mengusap2 matanya. Terlihat lucu di mata Sehun. Dan itu membuat wajah Sehun memerah. Luhan membelalak ketika Sehun sudah bangun.
“Sehun…kau sudah bangun?” Luhan berdiri. Memeriksa keadaan Sehun. Memegang pipinya, tangan Sehun, dan mengedarkan pandangan ke seluruh tubuh Sehun.
“Ya, aku baik2 saja. Kau tidak usah berlebihan Luhan.”
“Syukurlah.” Luhan menangis terharu. Tiba2 dia memeluk Sehun.
“Kau menakutiku bodoh. Aku kira aku tidak akan melihatmu membuka mata lagi, Sehun.” Luhan mengatakan hal yang membuat Sehun terkejut. Sehun tidak membalas pelukan Luhan, juga tidak menolaknya. Namun dia tersenyum. Bahagia ketika seseorang takut kehilangan dirinya. Ini pertama kalinya.
“Ya. Lepaskan Luhan. Sesak.” Namun kalimat itu saja yang bisa Sehun ucapkan. Dia memang tidak pandai mengungkapkan perasaanya. Luhan melepaskan pelukannya.
“Mian, tapi sungguh aku senang kau sudah sadar. Lain kali kau tidak boleh ceroboh. Aku yang harusnya melindungimu.”
“Siapa yang ceroboh ha? Kau itu yang tidak waspada. Bagaimana bisa orang dibelakangmu akan menghajarmu tapi kau tidak tahu. Sedangkan aku yang terluka saja masih bisa melihat. Aku heran kenapa kau bisa jadi pengawal.” Sehun kembali mengeluarkan kata2 pedasnya pada Luhan. Namun kali ini Luhan tidak marah atau membentak Sehun. Memang dia yang salah. Seharusnya dia yang terluka, bukan Sehun.
“Mian…aku benar2…”
“Sudah jangan pasang muka memelasmu itu Luhan. Kau jelek sekali.” Tapi kali ini Luhan tidak terima dibilang jelek oleh Sehun.
“Mwo? Apa kau bilang? Aku jelek? Dasar tuan muda sok kuat.”
“Kau itu yang ceroboh.” Sehun tak mau kalah bertengkar dengan Luhan. Jongin yang mendengar omelan dua orang itu mulai membuka matanya. Tidurnya terganggu oleh teriakan2 Sehun dan Luhan.
“Ya kalian berdua. Kenapa sudah bertengkar sepagi ini sih. Ya Tuhan, apa salah hamba. Pagi2 sudah melihat suami istri bertengkar.” Jongin bergumam asal.
“Kim Jongin! Diam kau! Siapa yang kau bilang suami istri ha?” Luhan dan Sehun membentak Jongin bersamaan. Jongin hanya bisa menutup telinganya dengan bantal.
TBC
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar