Pengikut

Selasa, 05 Maret 2013

I'M YOUR PATRON [EXO Yaoi] | Chapter 3

Tittle : I'M YOUR PATRON 
Author : sehuna_na 
Rating : T 
Genre : Yaoi (ga suka, ga usah baca), Romance (gagal), Action (lebih gagal) 
Length : chaptered (3 of ?)

Main Cast : Find it by ur self 
Disclaimer: The casts belong to their God (and me), this fic belongs to my self 
Warning : OOC, typo[s], alur berantakan, hancur, lebay, ga jelas…

**

Previous Chapter


“Tapi aku bukan rusa pabo.” Luhan menekuk lengan di dadanya. Memandang kesal Sehun. Namun sedetik kemudian Sehun menariknya hingga ia terjatuh di atas Sehun. Posisi yang sama ketika siang tadi ia menyelamatkan Sehun.


“Ya, apa yang kau lakukan Oh Sehun?”


.
.
.
.


I'M YOUR PATRON | chapter 3



“Ya, apa yang kau lakukan Oh Sehun?” Luhan mencoba bangkit. Namun Sehun memeluk pinggangnya. Ternyata Sehun lebih kuat dari yang dia kira. Luhan hanya bisa memalingkan wajahnya yang kini sudah sempurna memerah.


“Lepaskan aku Sehun.”


“Ani. Kau berani memanggilku pabo. Dan sekarang kau harus bertanggung jawab Xi Luhan.” Kali ini mata Sehun berkilat2. Luhan takut. Dia masih berusaha melepaskan diri dari Sehun.


Tok…

Tok…

Tok…


Terdengar suara ketukan dari luar kamar Sehun. Terpaksa Sehun membiarkan Luhan melepaskan diri dan membuka pintu. Ternyata asisten Sehun. Mereka membicarakan sesuatu di depan pintu.


“Apa-apaan dia itu?” Luhan mengelus dadanya. Ternyata sedari tadi perasaannya aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Merasa wajahnya memerah, Luhan memegang pipinya.


“Aku kenapa?” Luhan masih berkutat dengan pikirannya. Tak sadar bahwa sedari tadi Sehun memperhatikannya dengan wajah kesal.


“Xi Luhan!!!” Kali ini Sehun berteriak. Tepat di telinga kanan Luhan. Luhan yang mendengarnya sedikit melonjak. Kaget tentu saja.


“Ya, Sehun. Bisakah kau pelan sedikit memanggilku?”


“Sudah hampir 5 kali aku memanggilmu dan kau hanya diam seperti orang bodoh yang tuli.” Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali. Benarkah? Dia terlalu masuk ke dalam lamunannya.


“Ah, mianhae.”


“Sudahlah. Ganti bajumu. Kita ke tempat kursus sekarang.” Luhan mengangguk dan beranjak dari tempat tidur Sehun.

.
.
.

Luhan hanya memainkan pisau kecil –untuk melindungi diri- ditangannya. Dia bosan harus menunggu Sehun yang kursus sampai jam 8 malam nanti. Luhan memperhatikan Sehun yang ada di depannya sedang serius belajar dengan gurunya. Wajah serius Sehun menarik Luhan untuk semakin mendalami apa arti ekpresinya.


“Kenapa Sehun bisa ya hidup seperti itu? Sepertinya dia lelah. Tapi tetap saja memaksa. Apa ini hanya untuk menjaga nama keluarganya yang terpandang itu? Ah omong kosong. Seharusnya remaja seperti dirinya bisa hangout bersama temannya.  Ah aku tidak mengerti kehidupan orang kaya.”


Luhan mengetuk2 pisaunya masih sambil memandangi Sehun. Lalu melipat pisau yang sedari tadi dimainkannya.


“Sehun manis kalau lagi serius.” Tanpa sadar Luhan tersenyum sambil tertunduk dan menggumam sesuatu. Lalu dia menutup mulutnya sendiri.


“Luhan pabo. Apa yang kau katakan?” Luhan memukul pelan kepalanya sendiri. Mengutuk dirinya yang baru saja menggumamkan bahwa Sehun terlihat menawan.


“Luhan, kau kenapa?” Tiba2 saja Sehun sudah berada di hadapan Luhan. Luhan gelagapan. Apa tadi Sehun mendengarnya bergumam. ‘Tidak mungkin, Sehun kan tadi masih belajar’. Luhan menggeleng2kan kepalanya.


“Xi Luhan. Kau memang kurang waras sepertinya.” Sehun kembali mengeluarkan kalimat pedas pada Luhan yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sontak Luhan yang mendengarnya merasa kesal. Kenapa Sehun selalu tidak bisa baik padanya. Sejak hari pertama bekerja. Sifat  yang sangat buruk, pikir Luhan.


“Ya tuan muda yang sok, kenapa sih kau selalu kasar padaku? Aku memang pengawalmu, tapi aku tidak terima kalau kau selalu seenaknya mengataiku.” Sebelum Luhan selesai melampiaskan amarahnya, Sehun sudah terlebih dulu menarik tangannya keluar dari tempat kursus itu. Luhan mencoba memberontak, tapi cengkeraman tangan Sehun terlalu kuat.


“Kau ini sebenarnya namja atau yeoja. Cerewet sekali.” Sehun masih saja bersikap dingin.


“Sehun, sakit. Lepaskan tanganku.” Sampai diluar tempat kursus, Sehun melepaskan tangan Luhan dan berjalan terlebih dulu. Luhan semakin kesal dengan kelakuan Sehun yang seenaknya. Namun tiba-tiba Luhan mendengar suara pukulan benda tumpul.


Bugh…


Luhan mengarahkan matanya kea rah Sehun. Sehun tergeletak dengan beberapa orang mengelilinginya.


“Sehun!” Luhan berteriak dan segera berlari ke arah Sehun. Dengan sekali ancang2, dia berhasil memukul tengkuk salah satu orang yang menyerang Sehun.


“Berani kalian menyentuh Sehun, kuhabisi kalian.”


“Argh…” Sehun mengerang. Luhan menghampiri Sehun yang sedang kesakitan memegang kepalanya.


“Sehun…ya kalian apakan Sehun?”


Luhan meninggalkan Sehun. Dia menghampiri lawannya. 2 orang ber’tangan kosong’ dan yang satu membawa tongkat pemukul baseball. Dua orang mulai menyerang Luhan. Luhan mencoba menghindar dengan membungkukkan badannya. Lalu Luhan menjegal salah satu kaki orang2 itu. Terjatuh. Dengan sigap Luhan menyarangkan tendangan di perut lawannya yang terjatuh tadi. Luhan kembali berdiri dan berbalik menyerang satu orang lagi. Luhan memukul wajah orang itu, lalu menendang kakinya. Orang itu jatuh tersungkur. Tanpa Luhan sadari, satu orang lagi yang membawa pemukul baseball belari kearahnya sambil mengacungkan senjatanya.


Bugh…


Tongkat tersebut mengenai tengkuk seseorang. Luhan hanya diam terkejut melihat Sehun yang kini berada diatas tubuhnya. Menindih Luhan dengan keadaan pingsan.


“Sehun…ireona. Sehun!” Luhan megguncang2 tubuh Sehun. Namun tidak ada jawaban. Luhan mencoba memindahkan tubuh Sehun. Ketika memegang kepala Sehun, Luhan merasa janggal. Ketika melihat telapak tangannya, Luhan membulatkan matanya. Darah. Luhan melihat sekeliling. Pelaku2 tadi sudah tidak ada. Mereka melarikan diri.


“Sehun!!! Ireona Sehun…” Air mata menggenangi pelupuk mata Luhan. Tubuh Sehun yang tidak bergerak membuatnya ketakutan. Ketakutan yang dirasa lebih dari sekedar ketakutan pengawal karena tidak sanggup melindungi orang yang seharusnya ia lindungi. Kehilangan Sehun.

.
.
.

Seoul International Hospital…


Suara derap kaki terdengar di koridor di depan kamar Emergency Unit. Luhan mendongak ketika seseorang memanggilnya.


“Luhan, bagaimana Sehun?” Jongin terengah2. Kelihatannya dia habis berlari2. Luhan hanya menatap ksong Jongin. Matanya sembab. Jongin yang sadar akan hal itu lalu memilih duduk di samping Luhan dan merangkul sambil menepuk pundaknya pelan.


“Bukan salahmu.”


“Tidak. Ini salahku. Aku pengawalnya. Tapi dia yang terluka. Dia yang melindungiku. Aku bodoh. Aku lengah. Aku…Sehun…hiks.” Luhan kembali tak bisa menahan tangisannya. Jongin yang melihatnya tidak tega. Dia memilih mengeratkan rangkulannya pada Luhan. Mencoba menenangkan Luhan, meskipun ia sendiri juga mengkhawatirkan keadaan temannya, Sehun.


“Keluarga Oh Sehun?” Seseorang berpakaian putih2 keluar dari ruang Emergency Unit. Luhan yang mendengar suara itu langsung berdiri menghampiri dokter yang menangani Sehun. Jongin mengikutinya.


“Uisa, bagaimana keadaan Sehun? Dia baik2 saja kan?”


“Ah, tuan Sehun baik2 saja. Hanya saja dia mengalami sedikit trauma dikepalanya. Dan juga memar di beberapa bagian tubuhnya. Selebihnya tidak ada luka serius. Dia sudah bisa dipindahkan ke ruang inap biasa.”


“Syukurlah.” Luhan mengusap matanya yang sembab karena menangis sejak tadi.


“Saya permisi dulu.”


“Gamsahamnida uisa.” Jongin membungkuk sopan pada dokter itu, dan Luhan mengikutinya.

.
.
.

Jongin masuk ke ruang inap Sehun membawa beberapa makanan dan minuman. Lalu dia menyodorkan susu kotak pada Luhan.


“Minumlah Luhan, kau pasti haus.” Luhan hanya menggeleng pelan sambil memandangi Sehun yang terbaring disampingnya. Jongin menarik kembali uluran tangannya. Lalu berjalan ke meja kecil disamping ranjang dan menaruh bawaanya disitu.


“Sehun…mianhae.” Hanya gumaman itu yang keluar dari mulut Luhan. Jongin merasa prihatin. Lalu dia duduk disamping ranjang Sehun. Berseberangan dengan Luhan.


“Sehun…sudah dua kali seperti ini.” Jongin tiba2 mengatakan sesuatu. Luhan mendongak dan melemparkan pandangannya pada Jongin. Mencoba mencerna maksud kalimat Jongin.


“Ya, ini bukan pertama kalinya dia diserang seperti ini.”


“Maksudmu? Luhan masih tidak mengerti dengan pernyataan Jongin. Tentang Sehun, dan serangan.

.
.
.
.
.
.
.
.


TBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar