By Ciezie
KaiMin/MinKai (Kai and Taemin) FF
Just Fiction (play Beast Fiction). Semua castnya bukan milik saya ^^
.
.
\(._.)_
happy reading
.
.
"Waeyo?" tanya Kai sambil duduk dan menyandar di bahu sosok yang juga sedang duduk dengan wajah tertekuk dan mulut mengerucut.
Tapi bukannya menjawab, sosok itu malah dengan kasar menjauhkan bahunya hingga kepala Kai jatuh ke kursi.
"Yaaakkk Taeminnie apa yang kau lakukan?" teriak Kai sambil mengusap kepalanya.
Sosok yang ternyata Taemin itu sama sekali tak mengacuhkan Kai, ia malah tetap asyik dengan muka tertekuknya. Kai memperhatikan Taemin dengan seksama. Sepertinya Taemin sedang ada masalah. Tangannya bersilangan di dada, dengan raut wajah yang sama sekali tak ada bahagia-bahagianya.
Setelah menghela nafas, Kai pun mendekat dan mengusap rambut Taemin. "Ada apa?"
Dia menggeleng dan tetap mengerucutkan bibirnya.
"Yaakkk aku bertanya baik-baik... ishhh kau ini... seperti Yeoja saja ..." omel Kai, meski tangannya tetap mengusap lembut rambut coklat Taemin.
Tangan Kai disentakkan secara tiba-tiba, Kai sedikit terhenyak melihat mata Taemin yang memerah. Apa dia salah berkata?
Setelah memberi pelototan, Taemin masuk ke rumahnya dan membanting pintu, meninggalkan Kai sendiri di kursi santai depan rumah itu.
Ada apa dengan Taemin? Kai mengacak rambutnya sendiri gemas.
.
.
.
"Masih marah juga?"
Kai berusaha mengimbangi langkah Taemin yang sedikit cepat, seakan tak mau Kai mengikutinya.
"Apa salahku sebenarnya?"
Tetap tak dijawab.
"Aisshh aku rindu Taemin yang penuh senyum atau Taemin yang suka meniru suara bebek atau Taemin..."
Tak berhasil, Taemin tetap berjalan cepat seolah-olah ada pencuri sedang berlari di belakangnya.
Akhirnya Kai menyerah dan membiarkan Taemin berjalan duluan menuju sekolahnya. Padahal biasanya mereka selalu berangkat bersama. Kai menghela nafas, sebenarnya ada apa sih? Taemin memang sering merajuk tapi tidak sampai seperti ini?
.
.
.
"Kenapa kau duduk di sini, Kkamjong?" tanya Sehun sambil menyodok bahu Kai.
"Ishhh sebentar saja!" Kai tetap duduk di bangku panjang kantin bersama Sehun, Luhan, Suho dan lain-lain. Biasanya dia memang tak terpisahkan dengan Taemin. Tapi kali ini Kai jadi malas sendiri, karena tak henti diacuhkan.
"Tapi nanti kembaranmu itu marah loh..." ucap Xiumin.
"Ah dia sedang marah padaku tanpa aku tahu apa penyebabnya."
"Sepertinya bukan hanya padamu."
Kai langsung tegak dan menatap teman-teman yang ada di bangku panjang kantin itu.
"Dia juga tidak bicara pada kami, bahkan pada Sunbae yang akrab dengannya itu siapa yang namanya mirip denganmu itu... emmm .. Key... ya itu dia namanya..."
Kai semakin mengerutkan keningnya, bahkan Taemin tak mau bicara pada Key Hyung yang sudah mirip seperti ibunya saking sayang pada Taemin itu? Kai tak berhenti berfikir. Selama ini meski mudah merajuk tapi Taemin akan mudah tersenyum lagi.
.
.
.
"Taeminnie..."
Kai masuk ke kamar Taemin setelah mengetuk sebentar. Taemin sesaat menoleh tapi kembali asyik dengan bukunya. Kai kembali menghela nafas. Tapi dia menguatkan hati lagi. Kai segera mendekat dan duduk di samping Taemin, meletakkan dagunya di bahu Taemin dan ikut membaca buku Taemin.
Ah tapi baru sebentar saja Kai sudah bosan, "Minnie..." panggilnya sambil meniup-niup kuping Taemin, membuat Taemin menoleh dan wajahnya seketika memerah menyadari begitu dekatnya wajah mereka.
Kai menyeringai dan mengecup bibir Taemin, membuat mata Taemin semakin melebar, lalu dengan gerakan tiba-tiba memukul kepala Kai dengan buku yang sedang dibacanya.
"Awwww!" Kai langsung mundur sambil mengusap-usap kepalanya. "Sakiit ... apa kau tidak sadar betapa tebalnya buku itu..." omel Kai.
Taemin terlihat merasa bersalah, tapi karena masih merajuk ia tetap tak mau minta maaf.
"Min sebenarnya ada apa? Ayo cerita padaku..." akhirnya kembali Kai yang harus mengalah.
Taemin menatap Kai sesaat, tapi kemudian melabuhkan tatapannya ke kejauhan.
"Tak ada apa-apa!"
Akhirnya Taemin mengeluarkan suaranya juga, membuat Kai sedikit bernafas lega.
"Lalu kenapa kau mogok bicara seperti itu?"
Taemin kembali hanya memandang kejauhan. Kai tahu Taemin belum bisa membicarakan soal ini mungkin. Maka Kai menarik tangan Taemin, "Ayo!"
Taemin menatap Kai bingung.
"Ada Street Dance di dekat pasar malam."
Wajah Taemin sedikit cerah. Tak salah kalau mereka selalu disebut anak kembar, selain sedikit mirip dalam penampilan, hobi dan minat mereka pada tari juga sama besarnya. Taemin segera berdiri dan meraih jaketnya.
.
.
.
Acaranya cukup meriah, meski sepertinya hanya acara dadakan. Sebuah lingkaran terbentuk dan beberapa yang merasa punya kemampuan menari, bergantian masuk ke tengah lingkaran dan menunjukkan kebolehan mereka. Sorak-sorakan sesekali terdengar mengimbangi sura keras musik yang berdentum.
Setelah penampilan satu grup pria bertopi lebar dan beraksesoris kalung rantai besar dan berkilau, Kai menarik tangan Taemin ke tengah lingkaran. Setelah saling melirik dan Kai memberi aba-aba hitungan. Mereka mulai menggerakkan badan. Meskipun jenis musik yang mereka biasa gunakan latihan sedikit berbeda, tapi yang pasti setiap ketukannya sama.
Sorakan terdengar setelah Kai dan Taemin mengakhiri dance mereka dan memberi bungkukkan dalam. Mereka pun kembali ke luar lingkaran.
"Kita pulang sekarang ya?" ajak Kai.
"Tapi acaranya belum selesai kan?" Taemin kembali menatap lingkaran yang semakin lama semakin meluas.
"Tapi ini sudah jam malammu Minnie..."
Taemin menatap jam tangannya dan berdecak, "Kenapa jam malam kita berbeda.. menyebalkan!"
Taemin menendang kaleng minuman di depannya kesal.
"Emmmm aku kan seperti ini Minnie... takkan ada yang menggangguku kalau telat pulang pun... kalau kau kan..."
Mata Taemin langsung mendelik pada Kai, membuat Kai urung mengucapkan apa yang ada di fikirannya. Taemin terlalu imut ia pasti diganggu para penghuni malam kalau masih berkeliaran lewat jam malamnya.
"Hei... kalian yang tadi dance berdua kan?"
Segerombolan gadis mendatangai Kai dan Taemin.
"Iya kenapa?" Kai langsung memberi senyum menawan membuat Taemin menyodok perutnya keras. Kai segera memberikan cengiran pada Taemin.
"Daebaak... dance kalian bagus sekali. Kalian couple serasi."
Mwo? Dari mana mereka tahu kalau KaiMin ini couple. Ketika Kai menoleh wajah Taemin sudah memerah lagi.
KAI POV
"Omo... Yeopo..." teriak salah satu gadis kemudian mendekat dan memegang lengan Taemin, membuatku sedikit mendelik. Taemin tersenyum gugup padaku sambil berusaha dengan lembut melepaskan tangan gadis itu.
"Ah kulitmu bahkan seputih dan sehalus ini, kau perawatan dimana?"
Pertanyaannya mulai membuat Kai mengerutkan kening. Taemin punya kulit itu dari sananya, perawatan, memangnya Taemin seorang gadis? Aneh sekali memberikan pertanyaan seperti itu pada seorang namja.
"Ah.. a.. animida... sa.. saya tidak perawatan."
"Jangan bohong. Ayo berbagilah! Kita kan sesama wanita, harus saling berbagi rahasia... aku juga ingin punya pacar setampan dia..." kata gadis yang lain.
Taemin dan aku berpandangan. Oh rupanya mereka salah mengira. Lagi-lagi Taemin dikira seorang Yeoja. Aku menghela nafas, dan sedikit tersentak ketika mataku tak sengaja bertatapan dengan Taemin. Matanya sedikit memerah. Sebentar lagi dia pasti akan menangis, dan ini hanya akan semakin mengukuhkan akan kemiripannya dengan yeoja.
Lalu semuanya jadi jelas begitu saja. Apa karena ini? karena ini kah Taemin belakangan jadi pendiam dan bermuram durja.
Aku segera mendekat dan memundurkan badan-badan gadis yang mengerubungi Taemin. Lalu kulingkarkan tangan di bahu Taemin. "Dia ini namja..."
"Mwo?" ucap mereka serentak dengan ekspresi tak percaya.
"Emmm ya dia namja yang cantik dan aku bangga mempunyai pacar namja secantik dia." Lalu kukecup pipi Taemin pelan, membuat gadis-gadis itu kembali ribut berteriak.
"Emmm kami duluan ya... pai pai..."
Tanpa menunggu jawaban mereka aku segera menarik tangan Taemin dan membawanya menjauh dari kumpulan gadis yang semakin heboh itu, tak kupedulikan beberapa di antara mereka yang mengeluarkan handphone dan memotret kami.
.
.
.
Kami akhirnya sampai di gerbang rumah Taemin. Rumahku tepat di sebelah rumah Taemin. Aku mematung menunggu Taemin membuka suara.
"Hari itu... sebelum kau datang... aku mau ke rumahmu."
Aku mendengarkan dengan sabar, Taemin akhirnya mau bercerita.
"Tapi Umma lagi-lagi melarangku dengan alasan jam malam. Aku jadi kesal. Apalagi sebelumnya di sekolah aku lagi-lagi dipojokkan gadis-gadis tak waras itu yang menganggap aku mengambil perhatian pacarnya. Aku jadi kesal karena kemiripanku dengan wanita membuat Umma selalu khawatir pada keselamatanku seolah-olah aku memang gadis, dan aku kesal juga pada teman-temanku, sebelum kau para lelaki enggan berteman denganku."
"Padahal banyak yang bilang kita mirip, tapi kau tetap terlihat manly padahal kau imut juga.. aku iri dan kesal padamu."
Aku tersenyum jadi karena ini? tebakanku benar kan?
"Daripada iri dan berkeluh kesah, lebih baik kau bersyukur, kau tahu para gadis itu iri padamu, para namja yang tak mau berteman denganmu juga iri padamu, dan kau tahu, aku akulah yang paling beruntung karena aku mendapatkanmu, namja yang cantik.. kau tetap namja di mataku."
Mata Taemin mengerjap, lalu ia mendekat dan memelukku, "Tapi aku ingin jadi manly juga hiks..."
Aku terkekeh, "Bagaimana kau akan dianggap lelaki kalau begini."
Taemin langsung menghentikan tangisnya dan menatapku. "Aku takkan menangis lagi kalau begitu."
"Anni... jangan berubah jadi apapun Taeminnie... aku menyukaimu yang seperti ini. aku suka Taemin yang kekanakkan tapi penyayang... aku suka Taemin yang lucu dan selalu ingin membuat orang bahagia... dan aku suka Taemin yang cantik seperti yeoja ini..."
Taemin menatapku lama, pelan matanya yang tadi cemerlang memerah perlahan lalu kembali ia menubrukku dan memeluk erat.
Aku tersenyum dan balas memeluknya.
"Ehemm... jam berapa ini Taemin?"
Aku segera melepaskan pelukanku dan menggaruk belakang kepalaku sambil segera membungkuk pada Appa dari Taemin.
"Aku duluan ya Kai... sampai bertemu besok."
Akhirnya Taeminku kembali tersenyum. Dan aku bersyukur juga soal Umma dan Appamu yang kelewat protektif itu karena itu membuatku tenang. Kau akan aman, dam aku tenang.
Aku tersenyum saat jendela kamarnya terbuka dia melambai dari sana, aku balas melambai dan kemudian berjalan ke arah rumahku.
.
.
.
END
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar