Semua tokoh bukan milik saya, tapi cerita ini milik saya
KyuHyuk FF with other member SJ
Warning,
ff ini mungkin mengandung banyak Typo, BL, OOC, jadi kalau tak suka
jangan dibaca ya. ^^. Tapi kalau terlanjur baca, silakan berkomentar!
.
.
.
.
Berjalan dengan santai. Sedikit bersenandung dalam hati. Eunhyuk menyambut pagi ini dengan senyum mengembang. Ia berjalan dengan langkah pelan menuju kelas. Seperti biasa kelasnya selalu seribut kelas TK, tentu saja karena belum ada guru yang masuk. Eunhyuk segera duduk di bangkunya. Ketika melirik ke samping, terlihatlah sahabat sejatinya Sungmin sedang sibuk dengan sesuatu entah apa di bukunya.
"Minnie Hyung..." ya... Sungmin memang lebih tua sedikit dan dia menganggap Eunhyuk memang adiknya.
"Emmmm..." hanya gumaman sebagai jawaban.
"Sibuk sekali ya?" Eunhyuk mengerucutkan bibirnya karena merasa diabaikan.
"Hari ini kan tugasnya kan dikumpulkan, aku tak sempat mengerjakan kemarin. Kau sudah mengerjakannya Hyukkie?" Sungmin sedikit mendongak dan mendapati wajah Eunhyuk yang langsung blank. Sungmin segera menghela nafas, pasti Hyukkie juga lupa lagi fikirnya. Suatu keajaiban kalau dia ingat pada tugas-tugas sekolah.
"Huwaaaa aku juga belum..." ratap Eunhyuk, setelah sadar dari adegan blanknya.
Sungmin memutar matanya, iya kan? Padahal entah berapa kali ia sudah mengingatkan.
"Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu, ayo ikut menyalin." Ucap Sungmin sambil menggedikan dagunya ke arah buku.
Eunhyuk segera mengambil buku dan menggeser kursinya ke bangku Sungmin. Ia mulai menulis.
Tapi sayannya baru saja dia selesai menulis nomornya, Songsaengnim datang dengan tepatnya. Eunhyuk menganga dan blank lagi, sedangkan Sungmin hanya bisa menepuk bahu Eunhyuk, ikut berduka.
.
.
.
.
"Songsaengnim tahu kau anak yang baik, Hyukkie, tapi tidak ada pembedaan sikap. Kau selalu lupa tugasmu. Bukankah kau menuliskannya di buku, apa kau tak belajar di rumah hmmm?"
Eunhyuk hanya menunduk. Ya ia memang jarang belajar di rumah, bukan karena malas, justeru karena ia amat rajin. Sepulang sekolah ia membantu di restauran kecil-kecilan keluarganya. Biasanya sampai larut malam, dan ia tak sempat lagi membuka buku. Ia juga amat sangat pelupa. Rentang dia ingat dan lupa pada tugas memang sangaat jauh jumlahnya.
Tapi kalau tugas itu dikerjakan langsung di kelas, ia selalu mengerjakan dan hasilnya selalu bagus. Kenapa di dunia ini harus ada PR sih? Eunhyuk kembali meratap dalam hatinya.
"Nah kau tak pernah belajar kan? Kalau begini terus, nilaimu akan semakin mengecewakan, padahal kau ini tidak bodoh Hyukkie. Baiklah, dengan terpaksa hukumannya akan Songsaengnim tingkatkan, pulang sekolah kau harus membersihkan gudang, sampai bersih, kau tahu kan standar bersih Songsaengnim."
Eunhyuk hanya bisa mengangguk. Pasrah. Bersih standarnya adalah, bersih, harum dan rapi. Mengingat gudang adalah sarangnya kekotoran, Eunhyuk haruslah bekerja super duper keras.
"Kau juga tak bisa mengikuti pelajaran Songsaengnim hari ini."
Haahh itu berarti dia akan ketinggalan beberapa materi. Tapi sudahlah, itu bisa dia tanyakan pada Sungmin nanti.
"Nah kau Kyuhyun..." Eunhyuk menatap ke samping dan sedikit kaget melihat siapa yang ikut berdiri di luar kelas bersamanya, Kyuhyun? Bukankah dia murid terpintar di kelas? "Songsaengnim tahu kau anak yang paling rajin juga pintar, tapi kau juga tetap mendapat hukuman, selain tak bisa mengikuti pelajaran Songsaengnim hari ini, kau bertugas menjadi pengawas Eunhyuk menjalankan hukuman."
"Mwo? Tapi Songsaengnim, aku kan baru sekali ini saja tidak mengerjakan tugas... lagipula..." Kyuhyun akan mengajukan protesnya.
"Tak ada protes, kerjakan hukumanmu atau nilaimu menjadi kosong?" potong Songsaengnim tegas.
"Baiklah..." kentara sekali suara Kyuhyun tak rela.
"Bagus, sekarang berdiri di sini sampai pelajaran Songsaengnim berakhir. Songsaengnim harus kembali mengajar."
Tanpa menghiraukan mereka berdua lagi, Songsaengnim pun masuk ke dalam kelas.
"Ini gara-gara kau!" desis Kyuhyun membuat Eunhyuk menoleh dan mendapati wajah muram Kyuhyun.
"Mwo? Kenapa kau menyalahkanku? Itu salahmu sendiri!"
"Aishhhh diam! Kau berisik sekali."
Eunhyuk hanya memutar matanya, siapa yang tadi duluan? Ahh ngomong-ngomong kalau begini caranya dia takkan bisa membantu Umma dan Appanya di restoran. Pokoknya ia harus cepat-cepat menyelesaikan hukumannya nanti.
Ketika kembali melirik ke arah Kyuhyun, ia langsung mendapatkan deathglare membuatnya cepat-cepat menunduk. Si playboy ini wajar sih marah, dia mungkin ada banyak janji dengan pacar-pacarnya, dan sekarang dengan tidap pentingnya malah harus mengawasi orang melaksanakan hukuman. Poor him.
.
.
.
.
Eunhyuk berjalan dengan cepat menuju gudang sekolah, dia sudah mendapatkan pinjaman alat kebersihan dari petugas kebersihan. Ia menyusun rencana dalam hati, agar hukuman ini selesai secepat mungkin. Pertama, keluarkan barang-barang. Kedua, membersihkan kaca. Ketiga sapu-sapu. Empat, mengepel. Lima memasaukkan kembali barang sambil meyortirnya. Enam membakar barang yang sudah sangat rusak. Nah, begitu saja.
Dari belakang terdengar suara-suara dari Kyuhyun yang sepertinya sedang berusaha menjelaskan pada pacar-pacarnya lewat telepon. Mungkin dia mebatalkan acara date. Ahh Eunhyuk tak mau ikut pusing. Selama ini meski mereka selalu satu kelas, Eunhyuk tak pernah akrab dengan Kyuhyun. Mereka terlalu berbeda untuk bisa bersama dalam pertemanan.
Eunhyuk mulai mengeluarkan satu persatu barang dari gudang, yang ternyata kotornya jauh melebihi perkiraan. Apa gudang ini tidak pernah dibuka untuk waktu yang amata lama? Kenapa debunya separah ini? Eunhyuk tak henti terbatuk, membuatnya kembali mendapat deathglare Kyuhyun yang dibalas dengan senyum polos.
Ah benar-benar Kyuhyun tak mau membantunya. Untuk barang yang kecil sih tak masalah, tapi Eunhyuk butuh bantuan untuk mengangkat lemar-lemari dan barang berat lainnya. Ketika mencoba melayangkan protes lewat pandangan matanya, Eunhyuk hanya mendapat balasan pandangan –kerjakan sendiri hukumanmu, hukumanku hanya mengawasi— dan ia pun kembali asyik dengan handphonenya.
Ah sudahlah Eunhyuk kembali menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Semua barang akhirnya berhasil dikeluarkan meski dengan kerja keras. Keringat membasai seluruh tubuh Eunhyuk sampai rasanya seragam menempel ke kulitnya yang basah. Eunhyuk mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan. Sekarang saatnya menyapu.
Menyapu jadi bagian tersulit rupanya, Eunhyuk tak henti keluar setiap semenit sekali dengan batuk dan bersin yang dahsyat. Ahh debunya benar-benar tebal. Eunhyuk sampai sesak nafas berada lama-lama di dalam. Lalu sehelai sapu tangan melambai di wajahnya.
Kyuhyun?
Begitu mendongak, Eunhyuk mendapati kalau Kyuhyun lah yang melambaikan sapu tangan itu. "Pakai itu! Kau berisik sekali, aku jadi tak bisa mendengar dengan jelas suara pacarku." Desisnya.
Entah kenapa Eunhyuk jadi tersenyum sendiri, ia segera menerima sapu tangan itu kemudian memakainya seperti masker. Rupanya si playboy ini masih memiliki sisa kebaikan juga, desisnya dalam hati. Setelah sedikit beristirahat, Eunhyuk masuk lagi ke gudang dan mulai menyapu. Rupanya sapu tangan ini memang luamayan berguna.
.
.
.
.
.
Menyapu, chek. Eunhyuk menghela nafas. Ahh dia butuh istirahat. Eunhyuk pun duduk menyender di dinding luara, menikmati hembusan angin yang menyegarkan tubuhnya yang basah oleh keringat. Ketika menoleh ke arah samping, terlihat Kyuhyun yang berjalan menuju ke arahnya dengan mata tetap pada ponselnya.
Lalu tiba-tiba Kyuhyun terpeleset tali sepatunya sendiri yang terbuka, ia akan jatuh dan tepat di tempatnya akan jatuh itu ada pecahan kaca, Eunhyuk segera berlari dan merentangkan tangannya, membuat kepala Kyuhyun berbantalkan lengannya, dan tentunya lengannya lah yang mengenai pecahan kaca.
"Awww..." pekik Eunhyuk.
Kyuhyun segera bangkit, untuk sesaat ia hanya memandangi tangan Eunhyuk dan pecahan kaca itu bergantian. "Ka..kau menyelamatkanku?"
Eunhyuk hanya mengangguk, mengangkat tangannya yang perih dan berdarah. Dan Eunhyuk sedikit tersentak, ketika Kyuhyun mengambil tangannya, memeriksanya dengan teliti. "Kau tak apa-apa?" Tanyanya pada Eunhyuk.
Eunhyuk segera memberikan cengiran, ya luka seperti ini memang termasuk tidak apa-apa buat diirnya. "Tak apa Kyu, ini hanya luka kecil. Sebentar juga akan sembuh..."
Kyuhyun terus menatap Eunhyuk yang mulai merasa tak enak.
"Tunggu sebentar di sini~!" tanpa menunggu jawaban Eunhyuk, Kyuhyun pergi dari sana, berlari cepat.
.
.
.
.
.
Eunhyuk tersenyum-senyum sendiri setiap ia tak sengaja menatap Kyuhyun yang sekarang sedang sibuk mengepel lantai. Rupanya si playboy itu memang baik, lalu kenapa dia sering menampilkan kesan angkuh dan menyebalkan.
Ketika kembali tadi, dia membawa perban dan obat luka. Dengan telaten dia membalut luka Eunhyuk yang padahal tak seberapa. Tapi iya sih seandainya kepala Kyuhyun yang kena, itu baru akan apa-apa. Lalu tanpa diduga ia juga memutuskan untuk membantu.
Mengepel Chek. Memang lebih cepat dikerjakan berdua kan?
"Sekarang apa?" tanya Kyuhyun.
"Selanjutnya memasukkan kembali barang-barang ini, katanya yang sudah sangat rusak boleh dibakar..."
Kyuhyun hanya mengangguk. "Ayo kita masukkan yang besar-besar dulu." Katanya sambil menuju sebuah lemari, yang tadi dikeluarkan dengan susah payah oleh Eunhyuk.
Eunhyuk mengangguk dan segera menghampiri Kyuhyun.
Semua barang besar selesai. Tinggal barang-barang kecil.
"Kyu..." panggil Eunhyuk pada Kyuhyun yang sedang asyik membakari rongsokan.
"Apa?"
"Menurutmu ini masih dipakai tidak?" Eunhyuk mengangkat sebuah buku usang, Kyuhyun mendekat. Mengambil buku itu dan membuka-bukanya. Sepertinya sebuah buku cerita tua.
"Hmm sepertinya sudah tidak dipakai, kalau penting pasti diambil dan disimpan di perpus kan?"
"Kalau begitu, biar kusimpan saja." Ucap Eunhyuk sambil menepuk debu-debunya.
"Buat apa?"
Eunhyuk menggedikkan bahunya, iya juga untuk apa. "Entahlah aku hanya ingin menyimpan, aku juga suka membaca buku cerita."
"Terserah kau saja."
Kyuhyun kembali ke acara bakar membakar, dan Eunhyuk setelah meletakkan buku itu di tempat aman, kemudian kembali meyortir barang-barang untuk dimasukkan.
.
.
.
.
.
Akhirnya, Eunhyuk menggerak-gerakkan badan. Lelahnya... ia menatap Jam tangannya dan langsung tersentak. Hah? Ini sudah amat sore. Ia cepat-cepat berjalan menuju pos keamanan untuk menyerahkan kunci gudang.
Lalu dengan kecepatan ekstra dia berlari menuju gerbang, tapi sebuah motor menghalangi larinya. Si pengemudi membuka helmnya. Kyuhyun?
"Naik! Biar kuantar."
Eunhyuk tersenyum, "Tak usah Kyu, rumahku dekat kok."
"Naik saja! Aku hanya tak ingin berhutang budi padamu." Desisnya.
Ooh jadi masih karena itu. Ya sudahlah. Eunhyuk pun naik ke boncengan, dan motorpun melesat, membuat Eunhyuk tak sadar melingkarkan tangannya ke perut Kyuhyun, yang juga entah sadar atau tidak sama sekali tak protes.
.
.
.
.
Ini dekat? Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini bahkan lebih jauh dari rumah Kyuhyun. Dan Eunhyuk berjalan kaki pulang pergi, setiap hari. pantas badan anak itu kurus kering, pikir Kyuhyun. Belum lagi ia selalu tampak kelelahan dan lupa tugas-tugas sekolah.
Dan sekarang lihat ia malah langsung membantu kedua orangtuanya melayani tamu di restauran kecil ini. Kyuhyun benar-benar kagum. Apa ia tak merasa kelelahan, padahal Kyuhyun yang hanya membantu setengahnya tadi, rasanya ingin pingsan saking lelahnya. Benar-benar anak ini!
"Kyuhyun!"
Kyuhyun tersentak mendapati objek yang dikaguminya sekarang tepat ada di depannya dan sedang mengerucutkan bibir. Manisnya! Apa? Kyuhyun terkaget-kaget sendiri dengan pemikiran yang melintas di otaknya.
"Aku sudah memanggilmu berulang kali. Kau ini... mau pesan apa?" tanyanya dengan nada merajuk. Ahh dia benar-benar manis, pikir Kyuhyun lagi. Dan segera setelah menyuarakan pikirannya Kyuhyun ingin sekali menjedukkan kepalanya ke dinding agar sadar. Aku masih normal, bisiknya berulang-ulang dalam hati.
"Aku sudah pesan tadi pada Ummamu."
Eunhyuk memandang Kyuhyun sedikit heran, kenapa nadanya jadi lembut begitu? "Ya sudah tunggu saja ya! Aku harus kembali ke belakang."
Kyuhyun hanya bisa mengangguk.
.
.
.
.
"Terimakasih ya."
Eunhyuk tersenyum, "Sudahlah itu hanya hal kecil kok."
Kyuhyun berusaha membalas senyum Eunhyuk meski kaku, ia tak biasa tersenyum kecuali untuk menggoda gadis-gadis.
"Baiklah aku pulang kalau begitu!" Kyuhyun naik ke motornya lalu melesat setelah melambai pada Eunhyuk.
Eunhyuk memandang hingga motor Kyuhyun tak terlihat lagi. Hari yang aneh, tiba-tiba saja dia dekat dengan Kyuhyun, padahal ia sebenarnya kurang suka pada Kyuhyun sejak pertama kali mereka bertemu dan mereka tak pernah saling menyapa sekalipun.
Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudahlah mungkin esok akan kembali biasa lagi. Orang seperti Kyuhyun mana mau berteman dengan orang sepertinya.
Angin berdesir, sedikit membuat Eunhyuk merinding. Ia buru-buru masuk ke dalam. Eunhyuk tak tahu saja, ia bukan hanya akan dekat tapi ia akan terikat dengan jalan cerita rumit bersama Kyuhyun, salah dia karena mengambil dan menyimpan barang yang harusnya terkubur selamanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar