Pengikut

Jumat, 02 November 2012

Flower Boys Complex #Chapter 3 – Kim Minhyun

"SELAMAT datang di klub judo! Namaku Kim Youngwoon, tapi kalian boleh memanggilku Kangin! Aku tidak ingin ada anggota klub yang lembek disini, JADI BERSIAP-SIAPLAH!"
Tepat satu minggu sudah berlalu sejak Hyungseo, Minhyun, Youngna, dan Minri menempati SMU baru mereka. Dan sebagai angkatan pertama yang bisa menikmati pilihan klub-klub yang baru di sekolah, jadi dengan sangat, sangat, sangat antusias, Hyungseo memilih klub pecinta alam (menyedihkan karena anggotanya hanya sepuluh orang); Minri memilih klub renang (ia bingung, jadi Minhyun memaksanya dengan alasan yang aneh); Youngna memilih cooking club (itu jujur dari hati); sementara yang paling mencengangkan adalah Minhyun, karena ia memilih klub judo.
Klub judo, dengan ketua yang sepertinya galak—atau mungkin hanya dibuat-buat galak.
"Kalian pasti bertanya-tanya," kata ketua klub bernama Kangin itu. "kenapa SMU Shinhwa memiliki klub-klub baru, bahkan klub judo."

Minhyun merengut dan bergumam dalam hatinya. Tidak juga, sih…
"Seperti yang kalian tahu, sekolah kita menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah lain, seperti SMU Neul Paran… dan itulah yang membawa klub-klub itu kesini," jelasnya dengan penuh wibawa. Sementara itu Minhyun masih merengut karena bosan.
"Sudah cukup basa-basinya. Aku ingin masing-masing dari kalian maju dan memperkenalkan diri dengan singkat. Nah, siapa yang mau maju pertama?"
Sunyi senyap. Tak ada yang mengajukan diri.
"Bagaimana kalau kau saja?" Kangin menunjuk seorang anggota dari tahun pertama.
"Eh? Aku?" Akhirnya ia pun berdiri. Ternyata tubuhnya tak terlalu tinggi, tapi cukup tegap dan sekilas terlihat seperti atlit judo profesional saja. Ia berjalan ke tengah-tengah matras, lalu mulai bicara.
"Namaku Lee Sungmin," ucapnya. "Err… apa lagi, Sunbae?"
"Kenapa malah bertanya? Kau jelaskan tentang dirimu."
"O-oh, begitu… baiklah. Aku suka judo, karate, taekwondo, dan… aku sudah sabuk hitam."
Minhyun tersenyum. Kok meragukan, ya?
"Aku… ingin memperdalam kemampuan judo-ku, jadi aku bergabung dengan klub ini. Ya… kurang lebihnya begitu. Terima kasih. Aku boleh duduk kan, Sunbae?"
"Eh… baiklah. Siapa selanjutnya?" Kangin meninggikan suaranya, namun lagi-lagi tak ada yang menyahut. "Ah, kau saja, deh."
Dan seorang lagi pun berdiri. "Namaku Taeyang," katanya singkat. Dari penampilan dan cara bicaranya, terlihat sekali kalau yang satu ini sikapnya dingin. "Aku tidak tahu klub mana yang akan cocok untukku, jadi kupikir mungkin akan menarik kalau aku mengikuti judo. Semoga saja klub ini tidak membosankan." Ia menutup kalimat singkatnya dengan ucapan terima kasih yang juga singkat, dan akhirnya duduk lagi dengan kalem seperti sebelumnya.
Kangin menggeleng-geleng. "Kenapa ya, murid-murid tahun ini banyak sekali yang irit bicara?" ia menggumam pelan. "Nah, selanjutnya kau."
Minhyun mendongak. "Aku? Oh, baiklah."
Minhyun pun berdiri. Dan begitu ia menjadi lebih tinggi dari yang lain, ia dapat melihat ada sekitar empat puluh orang yang mengitari matras itu, menunggunya untuk bicara. "Namaku—"
Namun sebelum Minhyun sempat melanjutkan kalimatnya, seseorang datang. Semua yang ada disanapun spontan menoleh, sementara itu wajah Kangin, sang ketua klub, nampak begitu sumringah.
Ia berkata dengan riang, "Nah, itu asistenku, teman-teman."
Dan 'asisten' yang dimaksud Kangin pun masuk kedalam ruangan dengan tenang. Tapi begitu Minhyun mengetahui siapa sebenarnya si 'asisten' itu… ia langsung memekik, "KAU—!"
Dan yang bersangkutan pun menyadari, suara siapa yang berteriak padanya itu. Ia jadi ikut-ikutan menjerit, "Kau? Sedang apa kau disini?"
"Kau sendiri?" ucap Minhyun tak mau kalah. "Belum puas mengerjaiku dan Hyungseo, hah?"
"Kalian memang menyusahkan!"
"Tarik kata-katamu itu, Choi Siwon!"
xxXxx
Minhyun membasuh wajahnya berkali-kali di wastafel dekat ruang klub judo. Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa… KENAPA bisa-bisanya ia satu klub dengan pimpinan grup flower boys itu? Apa dunia ini terlalu sempit sampai-sampai ketika ia sudah jauh-jauh mendaftar ke klub judo pun, pada akhirnya ia masih saja bertemu dengan orang menyebalkan itu.
Minhyun mengambil setangkup air lagi, lalu ia hempaskan ke wajahnya keras-keras. Ia masih bisa mengingat bagaimana menjengkelkannya sikap Siwon kepadanya tadi. Oh, baiklah… ia tak ingin mengingat-ingatnya lagi, tapi semuanya terlintas begitu saja dalam pikirannya. Lagipula, ada satu kalimat yang diucapkan Siwon yang benar-benar membuatnya malu. Kalau tidak salah Siwon berkata, "Asal kalian tahu, dia ini yang minggu lalu dijemur di lapangan oleh Donghae—"
Dan sejak itu Minhyun bersumpah akan pindah klub!
"Minhyun-ah!"
Minhyun melonjak kaget merasakan sepasang tangan menangkap punggungnya dari belakang. Kalau bukan Minhyuk, Minhyun pasti sudah spontan melemparnya dengan sepatu.
"Oh! Kukira siapa! Aku kaget, tahu!"
"Ah, maaf, maaf. Hei, bagaimana klub judo-nya?"
"Menyedihkan," ucap Minhyun sembari memainkan keran wastafel ditangannya. "Kau sendiri? Bagaimana bandmu?"
"Ooooh!" Minhyuk ber-oh-ria begitu panjang. "Jonghyun dan Yonghwa-sunbae ramah sekali padaku. Selain itu, kami punya bassis baru, namanya Jungshin. Ia pendiam, tapi… keren! Wooooow, aku ingin sekali bisa sepertinya! Dia bisa memainkan bass hanya dengan—"
"Iya, iya, aku mengerti, Minhyuk. Tidak perlu menjelaskan sambil loncat-loncat begitu."
Minhyuk baru menyadarinya. "Oh, aku terlalu bersemangat."
"Kau harus kelihatan lebih dewasa sedikit, Minhyuk. Kan sudah besar…"
"Kan sudah besar…"
Entah kenapa setiap kali Minhyun mengucapkan kalimat itu selalu bisa membuat Minhyuk terdiam. Minhyun… gadis itu, walaupun setahun lebih muda darinya, tetapi terkadang ia bisa menjadi lima tahun lebih dewasa dari Minhyuk.
Minhyuk baru menyadarinya…
Minhyun yang ia sukai sejak dulu sudah bukan anak kecil yang suka lompat-lompatan lagi. Ia sudah dewasa, dan menginginkan Minhyuk untuk dewasa juga. Tapi Minhyuk tidak yakin…
"Minhyuk? Kok melamun begitu?"
"E-eh… tidak apa-apa," Minhyuk menggeleng. "Ke taman, yuk!"
"Ke taman? Kenapa?"
"Youngna sudah selesai dengan klub memasaknya. Minri juga. Mereka ada disana, entah sedang apa. Ayo!"
Minhyun pun menurut. Ia mengangguk riang.
Satu hal yang Minhyun sadari, ia mungkin bersikap dingin kepada sebagian besar—atau hampir keseluruhan—orang-orang yang ditemuinya. Tapi untuk Minhyuk… ia punya sesuatu yang membuat Minhyun melupakan semua kepenatannya karena bertemu dengan orang-orang yang tak ingin ia temui. Mengapa… Minhyuk begitu menyenangkan, pembawaannya selalu riang, namun tenang. Minhyun merasa seperti ada salju yang turun setiap kali ia bersama Minhyuk. Minhyuk mungkin kekanakan, tapi entah bagaimana Minhyun bisa menyakini kalau semua sikap kekanakan itu adalah cara Minhyuk untuk menunjukkan pada semua orang kalau ia menyayangi mereka. Bagi Minhyun, terkadang Minhyuk membuat hatinya seperti diterpa angin lembut musim gugur; rasanya menyenangkan dan segar. Tapi walau begitu, Minhyun tidak yakin bagaimana perasaan Minhyuk yang sebenarnya. Itu membuatnya teringat akan masa lalu. Saat-saat dimana Minhyun merasa begitu kebingungan.
"Aku suka padamu, Minhyun…"
Tapi Minhyun tetap tak bisa menjawab apa-apa.
Begitu mencapai taman belakang, hal pertama yang selalu menanti adalah hamparan rerumputan hijau yang kata Youngna dilimpahi oleh oksigen (Youngna dan Hyungseo sama-sama tergila-gila pada biologi dan semacamnya), lalu pepohonan dan sekumpulan orang-orang yang duduk dibawahnya, termasuk kali ini Minri dan Youngna yang nampaknya sedang asyik sekali membaca sebuah buku. Mereka tampak senang, terlebih setelah melihat Minhyun dan Minhyuk datang. Dan hal pertama yang ditanyakan Youngna tidak lain adalah: "Bagaimana klub judo-mu?"
Minhyun menggeleng pasrah. "Mengerikan, menyedihkan. Kurasa aku menyesal ikut klub itu."
"Lho? Memangnya kenapa?"
"Pacarmu tuh, Choi Siwon, ternyata ada di klub yang sama denganku."
Minri kelihatan tertarik. "Yang benar? Choi Siwon yang itu?"
"Choi Siwon yang mana lagi, memang?" Minhyun mendengus dongkol. "Lagipula, dia mengungkit-ungkit masalah minggu lalu. Menyebalkan sekali."
Tiba-tiba saja Youngna tertawa. "Hahahahahahah, itu artinya kau salah seorang yang beruntung karena bisa satu klub dengan cowok ningrat itu," ejeknya.
"Youngna! Awas, ya—"
"Eh, sudah ah." Minri akhirnya menengahi. "Daripada kalian meributkan orang tidak jelas begitu, lebih baik kita jemput Hyungseo. Harusnya sebentar lagi dia selesai dengan klubnya."
"Oh, baiklah. Ngomong-ngomong, dia masih hutang segelas jus padaku. Ayo!"
Dan mereka berempat pun beranjak pergi dari tempat yang biasanya hanya diisi para senior itu. Sepanjang koridor sekolah, yang terlihat pun kebanyakan adalah senior-senior setingkat Minhyuk. Lalu di bagian-bagian tertentu, terlihat beberapa orang senior dari tahun ketiga, termasuk Shim Changmin, ketua perwakilan murid beserta wakilnya, Jung Yunho.
Namun ditengah-tengah koridor pun, tiba-tiba saja mereka berpapasan dengan seseorang yang biasanya sangat tidak ingin Minhyun temui.
"Minhyun!" Dan mengejutkan, tiba-tiba orang itu memanggilnya.
Minhyun pun menoleh, dan yang dilihatnya adalah Cho Kyuhyun. Salah satu dari para F4 itu.
"Aku?" Minhyun menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kau. Bisa aku bicara sebentar denganmu?"
xxXxx

Tidak ada komentar:

Posting Komentar