Pengikut

Selasa, 05 Maret 2013

People These Days Chapter 6

Hari ini Kyungsoo sudah resmi menjadi seorang trainee dari Two Moons Entertainment.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju apartment dan tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya tercinta, mengabarkan segala hal yang telah terjadi pada dirinya hari ini. Satu langkah, dua langkah, langkah-langkah berikutnya tidak terhitung karena ia berlari, membiarkan kakinya menginjak aspal selayaknya hujan membasahi tanah. Kyungsoo pulang dengan sejuta rasa bangga dan kegembiraan menyelimuti dadanya.
Seharusnya begitulah kondisinya sekarang saat ini. Seharusnya.
Lantai 28, kamar 2818. Kamar Kyungsoo.
Kyungsoo mengetuk pintu kamar, menunggu sang adik untuk membukakan pintu kayu yang ada.
Cklek. "Ah, hyung sudah pulang!"
Pintu terbuka lebar, hampir identik lebarnya dengan senyuman yang mengembang di bibir Sehun. Meskipun ia tersenyum, Sehun adalah sosok seorang adik yang peka. Mungkin begitu pekanya hingga ia mampu untuk menyadari bahwa senyuman yang timbul di wajah sang kakak adalah palsu.
Dan senyuman itu memanglah tidak nyata.
"H-Hyung? Gwaencha–"
Dua buah lengan mendekap tubuh Sehun dengan erat. Sehun merasakan pundaknya dingin, seketika terasa basah oleh rintik-rintik air.
Sehun tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi ia memutuskan untuk merengkuh tubuh sang kakak ke dalam pelukannya. Sehun memejamkan mata dan membiarkan keheningan membunuh isakan tangis yang ada. Ia terdiam, keduanya terdiam.
"Gwaenchana, hyung. Gwaenchana,"
Kyungsoo mengabaikan setiap detik yang berjalan dalam dirinya. Ia tidak perlu memberitahu karena sang waktu pun mengerti bahwa ia merasa hancur dalam detik yang lalu, detik saat itu, detik berikutnya, detik yang akan datang.
.
.
People These Days
EXO Fanfiction
Kai and D.O
.
.

"Kim Jongin! Ada apa dengan gerakanmu?! Latihan yang benar!"
Keempat kalinya Yixing berteriak dan gerakan latihan dance Jongin masih tetap tidak ada perubahan yang berarti. Gagal, menurut Yixing. Yixing adalah sosok pelatih yang sabar tetapi jika yang dilatih saja tidak menanggapi dirinya sedikit pun sejak awal latihan, sebut saja kesabaran itu mulai luntur.
Yixing mematikan musik mereka dan menghampiri Jongin yang sedang terengah-engah di tepi ruangan. Tatapannya terlihat kosong.
"Kai," panggilnya. Deru napas Jongin masih tidak teratur dan Yixing masih terabaikan olehnya. Jongin terduduk di atas lantai dan bersandar pada dinding di belakangnya. Ia meneguk sebotol air minum, tetapi tetap tidak mengucapkan apapun setelahnya.
Sang pelatih mengambil tempat di sebelah Jongin. Ia memperhatikan Jongin yang memainkan jemarinya dengan tatapan kosong ke depan.
"Ada yang mengganggumu pikiranmu, Kai?" tanya Yixing. Jongin belum menjawab sepatah katapun tetapi Yixing sudah mengetahui jawabannya dari sorot mata yang muncul di kedua matanya. Jongin menatap Yixing dan ada lesung yang muncul di pipi Yixing, ia tersenyum.
"Do Kyungsoo, ne?"
Jongin terbelalak kaget. Tebakannya tepat mengenai sasaran.
"A-ani, hyung… Aku hanya…"
"Hanya?"
Kalimatnya terputus, namun senyuman Yixing melanjutkan untaian kata-katanya kembali.
"H-Hyung… Bagaimana hyung bisa tahu kalau aku… Kyungsoo…"
Lesung itu masih bertahan di pipi Yixing. Ia menepuk pelan punggung Jongin yang terlapisi oleh kaosnya yang basah oleh keringat. Jongin menunggu Yixing untuk berbicara tetapi ia hanya bisa menggerutu di dalam hati karena Yixing tersenyum terus seperti orang yang terlihat bijaksana.
Dan Jongin sedikit muak. Ia hanya bisa menunggu dan bersabar.
"Hmmm…"
Yixing meregangkan badannya dan ikut bersandar di dinding yang sama dengan Jongin. Ia meluruskan kakinya dan memainkan ujung sepatunya; bergerak kesana-kemari, kanan dan kiri.
"Sebenarnya aku hanya menebak-nebak saja,"
Jongin tidak percaya, sayangnya.
"Bercanda. Jangan mudah percaya seperti itu, Kai,"
Siapa juga yang percaya.
Yixing melipat kaki kirinya dan memeluknya. Telapak tangannya bertumpu pada lututnya. Ia memandang Jongin dengan lembut.
"Aku melihat Kyungsoo menangis kemarin,"
Kedua matanya membulat dan pandangan itu menusuk Yixing dalam-dalam. Refleksi matanya seolah-olah meminta Yixing untuk mengungkapkan segala hal tentang Kyungsoo lebih banyak lagi. Jongin peduli dan ia ingin mengetahui.
Tidak pernah ada yang tahu betapa dalamnya perasaan Jongin terhadap…
"Kyungsoo," Yixing membuka kembali bibirnya. "Kyungsoo menangis di depan ruangan Joonmyeon,"
Mari tidak menyebutkan penyebab air mata Kyungsoo pada kisah yang hendak diceritakan oleh Yixing. Beberapa hari yang lalu, Jongin sudah dapat menebak bahwa halaman selanjutnya dari perjalanan cintanya tidak akan berakhir dengan baik. Sepintas tergambarkan sorot mata seseorang yang telah berhasil merebut hatinya dan perhatiannya.
Perasaan rindu tidak perlu membutuhkan banyak waktu untuk menderu Jongin kembali.
"Waeyo?" kecemasan muncul di wajah Jongin. "Kenapa dia menangis?"
Jongin memang tidak pandai dalam membaca bahasa mata, tetapi hanya itulah yang ia dapat dari Yixing. Ada sesuatu yang terselubung dari pancaran cahaya bola matanya, tetapi Jongin tidak bisa menangkapnya. Jongin perlahan mulai resah, lalu pasrah, dan menyerah. Yixing tidak membuka mulutnya sedikit pun.
Dalam hembusan napas berikutnya, Yixing membuka kecil bibirnya. "Kyungsoo menangis,"
Akhirnya.
"Aku bertanya mengapa ia menangis pada saat itu, dan Kyungsoo menangis karena…"
.
Empat puluh menit berlalu. Jarum jam menyisakan dua puluh menit lagi sebelum menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu berjalan begitu cepatnya. Detik demi detik terbang begitu bebas mengiringi sang malam.
Sehun mengamati secangkir teh hangat yang berada di depannya. Masih hangat, Sehun yakin teh itu masih hangat. Tetapi Sehun menyeduh teh tersebut lima belas menit sebelum ia memutuskan untuk menempatkan dirinya pada sofa keluarga yang empuk. Mungkin memang masih hangat, tetapi sudah terasa dingin.
Ia menunggu hingga cangkir tersebut kosong. Ia menunggu seseorang untuk muncul dari balik pintu sebuah kamar. Sehun hanya bisa menunggu dan terdiam. Ah, bagaikan bongkahan batu yang terkikis oleh rintik-rintik air; Sehun mulai lenyap termakan oleh waktu.
Sehun menunggu kekasihnya untuk muncul kembali dari kamar sang kakak.
"Luhan, bisakah kamu kemari sekarang?"
Serambi memainkan remote televisi, Sehun mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Yang Sehun ingat, ia mengambil ponselnya sebelum pukul delapan malam, lalu menekan nomor telepon Luhan, dan langsung menghubunginya.
"Ada apa, Sehunnie?"
Sehun memintanya untuk datang, bukan karena ia sedang berada dalam bahaya. Bukan karena ia berada dalam situasi yang penting. Bukan tentang dirinya, tidak sama sekali.
"…Kyungsoo?"
Sehun meletakkan remote televisi dan menghela napas panjang. Ada yang berputar di dalam pikirannya. Besar, kompleks, membingungkan, dan Sehun muak dengan hal itu semua.
"Ne…"
Tidak ada acara televisi yang bagus. Luhan masih belum kembali dan Sehun terhanyut dalam keheningan ruangan, terperangkap dalam kebisingan semu.
.
"Oppa!"
Jongin mengenal suara itu. Ia memilih untuk mengabaikannya.
Sayangnya, semakin cepat ia melangkah, semakin kencang pula langkah kaki di belakangnya untuk menghampiri.
"Oppa, tunggu aku!"
Seseorang menarik lengan Jongin dan berhasil menghentikan tumit sepatunya untuk terus berjalan. Ia menggenggam erat lengan Jongin, seolah tak ingin melepaskannya begitu saja. Jongin membalikkan tubuhnya. Seorang yeoja dengan senyuman yang indah menatap dirinya lekat-lekat.
Entah mengapa Jongin pun tersenyum.
"Halo, Jongin-oppa," sapanya dengan mata berbinar. Jongin masih tetap bertahan dengan senyumannya.
"Hai, Soojung,"
Jongin membiarkan Soojung memeluk lengannya. Hari sudah malam, sudah saatnya untuk pulang. Ketika Jongin memutuskan untuk melangkah kembali, ia tak sendiri lagi. Ada yang menemani bayangannya di tengah sunyinya malam. Detak langkah kaki mereka membentuk simfoni kecil yang tak beraturan, hanya sekadar untuk melukis keheningan.
Tetapi, malam seperti apapun akan tetap terasa sama, tetap terasa sunyi bagi seorang Kim Jongin.
.
Cklek.
Sehun hampir saja terlelap. Syukurlah, rasa kantuknya hilang setelah melihat senyuman Luhan yang mengembang di wajahnya. Sehun beranjak dari sofa dan menghampiri Luhan.
"Sudah selesai?"
"Sudah,"
"Hyung cerita apa saja padamu?"
Luhan menempatkan telunjuknya di bibir Sehun atas jawaban dari pertanyaannya. Ia menggelengkan kepalanya, tidak berminat sedikitpun untuk menjawab. Luhan berjalan meninggalkan Sehun dan menghampiri secangkir teh yang dingin dan terbengkalai di atas meja. Ia tersenyum.
Luhan mengambil cangkir tersebut. "Kamu yang membuatnya?"
Sehun mengangguk dengan ragu. Teh yang sudah dingin tidak akan nikmat rasanya, batin Sehun.
"Untukku?" tanya Luhan, berpura-pura bodoh. Sehun mengangguk lagi. Jarak di antara mereka semakin dekat dan dekat.
"Terima kasih, Sehunnie,"
Sehun memeluk pinggangnya dan memperhatikan Luhan meneguk teh buatannya. Ia meminumnya sampai habis. Sehun tersenyum. Setelah Luhan selesai melakukan acara minum teh kecilnya, Sehun memeluknya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di cerukan leher Luhan.
Harum yang lembut seperti biasanya.
"Sehu–"
"Kyungsoo-hyung tidak apa-apa, 'kan?"
Yang Sehun dengar hanyalah hembusan napas sang kekasih.
"Aku… Aku khawatir, Lu. Ia tidak ingin menceritakan segala masalahnya kepadaku. Aku tidak tega jika harus melihatnya menangis atau mengurung diri di kamar seperti itu. Sebagai seorang adik, aku merasa tidak berguna. Aku tidak bisa menjaganya, tidak bisa membantunya keluar dari masalahnya. Aku benar-benar bodoh. A-aku…"
"Sehunnie,"
Ia memaksa Sehun untuk menatap matanya. Luhan menangkup wajah Sehun dan membiarkan kedua mata mereka saling menyapa. Ada secercah kekhawatiran dalam mata sang kekasih, Luhan dapat membaca itu semua. Sehun takut. Ia hanya takut tidak bisa menjaga Kyungsoo dari segala sesuatu yang membuatnya sakit. Sebagai seorang adik, Sehun ingin menjaganya. Sehun ingin melindungi Kyungsoo.
Tetapi sorot mata Luhan seolah mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu lagi. Kyungsoo… Dia hanya tidak ingin melibatkanmu dalam masalahnya. Ia tidak ingin membuatmu sedih karena dirinya. Kyungsoo memilih untuk memendam hal itu semua. Percayalah padaku, ia melakukan hal ini hanya demi kebaikan kalian berdua,"
Luhan mengusap pucuk kepala Sehun dengan lembut. Seperti anak kecil usia lima tahun, ucap Sehun dalam hati.
"Dan percayalah…" Luhan menggenggam jemari Sehun yang kurus. "Sesuatu yang sedang dihadapi oleh Kyungsoo saat ini bukanlah masalah yang besar. Ia hanya sedang bimbang, ragu, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anggap saja perasaannya mati. Kekhawatiranmu sebaiknya dikurangi saja, Sehunnie," ujarnya sambil tertawa.
Sehun mengabaikan apa yang telah kata hatinya ucapkan. Ia mempercayai Luhan lebih dari siapapun.
"Ne, neArraseo…"
Setelah sekian lama, akhirnya Sehun dapat tersenyum. Ia lega, dadanya terasa luas. Beban di benaknya berangsur-angsur menghilang. Mungkin ia memang terlalu berlebihan.
"Sudah malam, aku harus pulang. Aku ingin pamit sebentar dengan Kyungsoo,"
Luhan melepaskan tautan jemari mereka dan berjalan pelan menuju kamar Kyungsoo. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan pelan dan meneliti kondisi ruangan yang ada seperti biasanya. Ia tersenyum kepada Kyungsoo.
Kyungsoo masih terdiam di atas kasurnya dengan senyumnya yang sendu.
"Luhan?"
"Umm… Aku ingin berpamitan. Aku harus pulang sekarang,"
Kyungsoo tersenyum. Ia lupa bahwa mereka berbeda. Meskipun mereka belum mengenal baik satu sama lain, Tuhan telah menakdirkan mereka untuk menjadi lebih akrab pada malam ini. Tidak banyak yang Kyungsoo ketahui tentang Luhan sebelumnya, tetapi sekarang telah berbeda.
Luhan satu tahun lebih tua daripada dirinya dan dua tahun lebih tua dengan Sehun. Luhan pandai menyanyi dan bercita-cita ingin menjadi penyanyi, tetapi tidak dengan jalur agensi entertainment. Ia lebih memilih untuk melanjutkan studi kuliahnya terlebih dahulu dan melanjutkan cita-cita yang ingin digapainya kemudian.
"Oh," Kyungsoo memandang Luhan dengan mata bulatnya. "Hati-hati di jalan, Luhan,"
Kekasih adiknya itu tersenyum. Ia melambaikan tangan sekilas dan berjalan menuju pintu.
"Luhan,"
Pintu belum terbuka. Tangannya belum sempat menggapai gagang pintu kamar.
"Ne?"
Kyungsoo teringat akan seluruh ucapan yang diungkapkan oleh Luhan sebelumnya. Kata-kata yang dilontarkan mengenai solusi bagi masalahnya, kisahnya, hidupnya, semangatnya, perasaannya, segalanya. Luhan bukanlah seorang motivator yang baik, namun segala nasihatnya telah memotivasi Kyungsoo untuk dapat bangkit sementara.
Sementara, karena Kyungsoo masih ragu.
"Terima kasih…"
Beberapa kedipan mata tergambarkan di wajah Luhan. Ia tercengang.
"Yang bisa aku ucapkan saat ini hanyalah terima kasih… Terima kasih untuk semuanya… Semoga kau dapat menjadi seorang penyanyi yang hebat atau apapun yang kau cita-citakan setelah lulus nanti," Kyungsoo merasakan dadanya bergetar, suaranya terdengar serak.
Luhan menggenggam gagang pintu. Ia membalasnya dengan senyuman lembut seperti biasanya.
"Yang terutama, aku ingin selalu menjadi kakak yang baik bagimu dan membantumu untuk selalu bahagia,"
Cklek. Sehun sudah menunggu di depan pintu.
"Sudah?" tanyanya. Luhan mengangguk.
"Aku pulang dulu, Kyungsoo. Semangatlah kembali seperti matahari,"
Dan pintu ruang kamar pun tertutup, meninggalkan Kyungsoo dalam ketenangan ruangan yang dihujani oleh berjuta motivasi dan harapan, menunggu dirinya untuk bangkit kembali, dan dapat berdiri tegak layaknya pohon yang tak tergoyahkan oleh angin. Kyungsoo tersenyum dan sedikit menertawakan dirinya sendiri. Seharusnya ia tak perlu ragu, apalagi bimbang.
Kini ia mengerti mengapa Sehun sangat menyayangi Luhan dan tidak ingin kehilangan dirinya.
.
Sebelum memulai latihannya, Jongin merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan membawanya ke sudut ruangan. Ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
Selamat pagi, Do Kyungsoo. Selamat pagi, kesayanganku.
"Jongin, ayo kita mulai latihannya!"
Yixing menyalakan musik mereka dengan suara yang pelan, kencang kemudian – menandakan bahwa sudah saatnya untuk berlatih, meninggalkan segala macam hal sepele dan fokus.
Send.
Cancel.
Dari dua pilihan yang ada, Jongin menekan yang kedua.
"Ne, hyung…"
Jongin berpikir bahwa ia mulai mengenal dan merasakan apa yang disebut dengan 'rindu'.
.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar