Pengikut

Minggu, 02 Desember 2012

People These Days 2

"Do Kyungsoo itu siapa?"
Joonmyeon hanya melirik dan tetap sibuk meneliti map-map yang tadi Jongin berikan. Menjabat sebagai kepala bagian personalia dari sebuah agensi perusahaan entertainment besar tidaklah mudah. Ia harus teliti dan serius dalam bekerja.
Namun keseriusannya mendadak hilang saat Kim Jongin datang kepadanya.
"Kau yang memegang mapnya, malah kau yang tidak tahu siapa itu Kyungsoo. Bodoh," terkadang, kata-kata dari seorang Kim Joonmyeon itu cukup menusuk hati.
Jongin mengeluarkan senyuman khasnya. "Aku tahu, kok. Aku hanya penasaran dia lolos dalam audisi di bidang apa, hyung,"
Joonmyeon menutup map milik Kyungsoo dan menggenggamnya, menepukkannya pada paha Jongin berkali-kali yang seenaknya bersantai di atas mejanya. "Dia lolos dalam audisi menyanyi. Sejak kapan orangtuamu mengajarkan untuk duduk di atas meja?"
"Ups," Jongin beranjak dari duduknya dan mengelap meja Joonmyeon dengan telapak tangannya, menyengir. "Bersih, hyung,"
Kakak sepupu Jongin memutar bola matanya malas.
"Aku… keluar dulu, hyung. Maaf sudah mengganggu,"
Joonmyeon mulai merutuki hidupnya yang ditakdirkan untuk memiliki seorang saudara dari keluarga kakak ibunya yang bernama Kim Jongin. Seharusnya ia tidak membiarkan Jongin unuk berada di agensi ini, namun nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah terjadi, tetaplah harus dijalani.
.
.
People These Days
EXO Fanfiction
Kai and D.O
.
.

"Kau datang lagi,"
Kyungsoo mendatangi Jongin yang sedang duduk dan memainkan ponselnya di lobby. Setelah membicarakan soal Kyungsoo di ruangan Joonmyeon barusan, yang menjadi objek pembicaraan muncul. Panjang umur, Do Kyungsoo. Namun wajah Kyungsoo terlihat tidak bersahabat.
Mungkin karena matanya yang bulat dan agak lebih besar dari orang-orang pada umumnya.
"Kenapa? Mau mengusirku lagi?"
Jongin tertawa mendengar ucapan Kyungsoo. Ia menggeleng dan menepuk bangku kosong di sebelahnya, mengajak Kyungsoo untuk duduk. Meskipun terkesan berandalan, sebenarnya Jongin mempunyai sifat yang ramah dan bersahabat dengan semua orang.
"Duduklah,"
"Tidak, terima kasih. Aku hanya butuh pelatihanku dan tidak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu," ujar Kyungsoo sarkastik. Jongin mengangkat alisnya dan tersenyum sinis kepadanya.
"Benar-benar calon trainee yang sombong,"
"Kalau saja kau tidak mengusirku kemarin, aku pasti tidak akan berlaku seperti ini padamu,"
"Oh," Jongin beranjak dari kursinya dan berdiri di hadapan Kyungsoo. "Ingin membalasku, begitu? Lagipula aku tidak mengusirmu kemarin. Aku hanya menyuruhmu untuk pulang secara halus,"
Kyungsoo mendorong tubuh Jongin agar menjauh darinya. Ia merasa risih karena Jongin perlahan menghilangkan jarak diantara mereka. Ia tidak pernah berada sedekat itu dengan namja lain sebelumnya. Jongin menatap matanya dalam-dalam, seolah ingin menerkamnya. Dan senyuman itu, senyuman licik layaknya setan, setan yang sangat tampan, gerutu Kyungsoo dalam hati.
Kyungsoo menghindari kontak mata dengan Jongin. "Kau menyebalkan, Joonmyeon-sshi,"
Jongin mengerjapkan kedua matanya dan tampak bingung. Barusan ia bilang apa?
Oh, astaga. Ternyata dia masih mengira bahwa aku ini adalah Joonmyeon-hyung.
"Jo… Jo–"
"Iya, Kim Joonmyeon, kau! Awalnya kukira kau orang yang baik, ternyata kau menyebalkan,"
Oh.
Jongin menepuk wajahnya dan bergeleng beberapa kali. Ia tertawa setiap mendengarkan Kyungsoo berbicara. Mulai dari gaya bicaranya, nada suaranya, bahkan kedua matanya. Wajahnya tampak begitu lucu dan juga unik.
Menurut Jongin, Kyungsoo itu unik.
Kyungsoo mendecak malas dan memperhatikan Jongin dari ujung sepatu hingga ujung rambut. "Kenapa ketawa?"
Jongin mendengus. "Terserah orang, 'kan? Matanya biasa saja, dong. Tidak usah melotot begitu,"
Kedua mata Kyungsoo yang pada dasarnya memang sudah bulat, besarnya bertambah dan tampak semakin bulat. "Mataku memang begini!"
Demi sifat Joonmyeon yang seperti kakek-kakek, Kyungsoo memang sangat asyik untuk dijahili.
Jongin sebenarnya tidak ingin tertawa, tapi ia tidak bisa menahannya. "Arra, arra, mata besar," bukannya meledek, namun setiap ucapan yang keluar dari bibir Jongin kepada seseorang yang ditatapnya dengan intens –termasuk Kyungsoo– dapat diartikan sebagai caranya untuk menggoda seseorang saja.
Kim Jongin adalah seorang perayu besar, sejujurnya.
"Sini, ikut aku," Jongin mengajak Kyungsoo untuk mengikutinya. Mereka berjalan mendekati pintu keluar gedung agensi. Tautan alis Kyungsoo semakin dalam.
"Yah! Kita mau kemana?" jangan bilang dia mau mengusirku lagi… kumohon, jangan; doanya dalam hati.
Setelah beberapa langkah keluar dari gedung megah Two Moons Entertainment, Jongin membiarkan semilir hangat angin di pagi hari menerpa rambutnya, disaat seberkas sinar mentari menyinari wajah tampannya. Ia berjalan mundur, masih tetap menghadap Kyungsoo.
Kyungsoo bersumpah bahwa ia melihat Jongin tersenyum kepadanya, namun memutuskan untuk menganggapnya sebagai ilusi saja. Ia pasti terlalu banyak melamun.
"Kau bilang ingin mendapatkan pelatihanmu, bukan? Kita latihan di luar!"
Ada jarak yang tidak terlalu jauh dan juga tak terlalu dekat antara mereka berdua. Saat Jongin berjalan lebih cepat, maka Kyungsoo akan berlari untuk menyusulnya.
Kyungsoo senang. Setidaknya ia merasa sedikit lega dan senang hari ini.
.
Masih sekitar jam sepuluh pagi, Jongin dan Kyungsoo sudah berjalan kurang lebih setengah jam. Setelah berjalan di tengah keramaian namun keheningan di antara mereka, akhirnya dua namja tersebut tiba di sebuah tempat yang memiliki bentuk bangunan yang unik.
Atau lebih tepatnya, mereka mendatangi sebuah toko. Kejutan, Jongin menggiring langkah mereka menuju sebuah toko musik dan kaset.
Kyungsoo mulai berasumsi bahwa Jongin tidak pernah serius dalam menanggapi suatu hal.
"Kenapa kita malah kemari, Joonmyeon-sshi?" gerutunya, namun tetap melihat-lihat barisan kaset dari artis-artis terkemuka di Korea Selatan.
Jongin memperhatikan Kyungsoo yang terlihat sedikit 'sibuk' dengan kaset-kaset yang berada di tangannya. Ia terlihat senang melihat kaca berbentuk persegi yang bertumpuk di tangannya. Rata-rata, musisi dari luar negeri. British, Kyungsoo memang mengidolakan musisi dari negeri Britania Raya tersebut.
Lucu, menurut Jongin.
Jongin menyentuh disc dari berbagai macam musisi itu dengan telunjuknya. "Pilihlah salah satu. Setelah kau menemukan yang sesuai denganmu, kita akan kembali ke agensi dan melatih vokalmu dengan disc yang sudah kau pilih,"
Senyuman mengembang di wajah Kyungsoo, ia begitu senang hingga menampilkan barisan giginya dalam senyuman indahnya. "Jinnjja?"
Jongin tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat kecerahan dari wajah calon trainee itu. "Ne,"
Ia mendengar Kyungsoo bergumam sesuatu dan kalimatnya terdengar berantakan namun pada intinya ia merasa sangat senang. Jongin meninggalkan Kyungsoo dan mengitari rak bagian musik yang berbeda genre dari Kyungsoo. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Kyungsoo.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit. Jongin sudah mendapatkan apa yang ia cari. Ketika ia ingin kembali ke bagian rak musik yang didatangi oleh Kyungsoo, laki-laki itu menghilang.
Kepanikannya lenyap saat mendapati Kyungsoo sedang mencoba disc tersebut dan mendengarkannya dengan headphone. Bibirnya bersenandung kecil mendengarkan lagu yang ia dengar dengan mata terpejam. Ah, Kyungsoo terlalu terbawa suasana.
Lagu yang ia dengarkan sudah habis, telinganya kembali merasa senyap. Ia haus akan melodi-melodi yang indah dan menginginkan dirinya untuk meluapkan perasaannya melalu nyanyian. Sebelum ia berencana lebih jauh lagi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Jongin di depannya. Dengan dua telapak tangan yang menopang dagunya di sebuah rak, ia meringis. Kyungsoo menepuk wajahnya dengan tempat disc.
"Appo!"
"Jangan mengagetkan orang, pabbo!"
"Salah sendiri, kenapa sok serius begitu dalam mendengarkan musik?"
"Aish, kau itu–"
Kyungsoo tidak melanjutkan kata-katanya karena Jongin sudah menempatkan telunjuknya di bibirnya, memintanya untuk diam. Kyungsoo memandang sekelilingnya, ternyata keduanya sudah sedikit memancing perhatian dari pengunjung sekitar. Sekeras apa suara mereka saat berdebat singkat tadi.
"Sudahlah. Kau sudah mendapatkan disc-mu?" Jongin berusaha untuk mencairkan suasana kembali. Beruntung, ia tidak gagal.
Kyungsoo mengangguk dan mengusap disc yang ia pegang. Ia tampak begitu mantap.
"Genre apa?" tanyanya lagi.
Kyungsoo tersenyum kepadanya, matanya tidak terlihat terlalu besar. "Pop. Aku suka aliran musik pop,"
Jongin membulatkan bibirnya, membentuk sebuah 'O' kecil. Kyungsoo menyukai musik yang beraliran pop. Orang yang menyukai musik bergenre pop adalah tipe orang yang menikmati ketenangan. Ia menyukai alunan nada yang santai dan sesuai dengan suasana hatinya. Warna dalam musik pop beraneka ragam, sama dengan pecintanya. Kyungsoo adalah tipe orang sederhana, namun menyenangkan, dan apa adanya. Aliran musik seseorang dapat menggambarkan bagaimana orang tersebut.
Lain halnya dengan Jongin, ia lebih cenderung ke dalam genre R&B. Aliran R&B terdiri dari berbagai macam aliran musik – unik, rumit, tidak sesimpel kelihatannya. Ia akan condong ke dalam ekspresi kebebasan, lepas, tanpa kekangan. Jika genre akan mempengaruhi kepribadian, maka R&B adalah aliran musik yang paling cocok dengannya.
Karena Jongin unik, ia berbeda. Ada begitu banyak hal yang tidak dijumpai oleh orang awam pada umumnya di dalam dirinya. Ia tidak merasa spesial, ia tidak merasa diberkati. Ia sama dengan yang lainnya, hanya ada sedikit bagian dari dirinya yang 'tak sama' dengan orang lain.
Ia tidak menyalahkan dirinya. Ia tidak menyalahkan orientasi penyimpangan seksualnya. Ia tidak menyalahkan dirinya saat menyukai seorang yeoja, namun juga tertarik dengan seorang namja di saat yang bersamaan. Ia tidak menyalahkan hidupnya. Ia tidak pernah menyalahkan apapun, siapapun.
Hidupnya sudah rumit, ia tidak mau mempermasalahkannya. Jika jalannya sudah seperti itu, maka ia harus menjalaninya. Takdir. Jongin tidak menyalahkan takdir.
"Bagaimana denganmu, Joonmyeon-sshi? Kau suka genre apa?"
Memang terkadang ia senang menyalahkan dirinya karena begitu mudahnya jatuh ke dalam tatapan seorang namja. Beberapa kali ia jatuh kepada namja yang tidak sejalan dengannya dan akan berujung dengan sakit di hatinya, tetapi tidak menjadikannya untuk berhenti dari kebiasaannya.
Karena ia tidak bisa. Ia merasa sudah tidak menemukan jalan keluar untuk masalah ketertarikan seksualnya.
"R&B," jawabnya, masih menatap diri Kyungsoo dengan kulit seputih susu, wajah selembut malaikat, senyuman secerah matahari. "Aku suka sesuatu yang rumit,"
Kyungsoo masih tetap tersenyum. Ia senang bisa mengenal namja yang ia kenal sebagai 'Kim Joonmyeon' sedikit lebih dekat, meskipun hanya sekedar basa-basi. Setidaknya, suasana tidak terasa canggung lagi.
Jongin mengajaknya untuk membayar di kasir.
Setibanya di kasir, Kyungsoo mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Ia menunggu sang penjaga kasir untuk memberitahukan jumlah yang harus ia bayar.
"8.600 won, tuan,"
Kyungsoo membuka dompetnya dan hendak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya. Sayang, ia tidak lebih cepat dari Kim Jongin. Kyungsoo hanya bisa memandang Jongin dengan mata bulatnya, perasaan tidak enak hati menderu dirinya.
"Joonmyeo–"
"Gwaenchana, biar aku saja yang bayar,"
Sekali lagi, Kai tersenyum. Bukan senyuman atau seringaian menyebalkan dan licik seperti yang ia lihat sebelumnya.
Namun sebuah senyuman tulus dan lembut yang ia lihat di depan gedung agensi beberapa waktu yang lalu. Bibir yang mengukir sebuah senyuman terbaik kepadanya.
Senyuman itu bukanlah ilusi belaka.
Kyungsoo menunduk. Ia merasa serba salah. Ia menjadi tidak enak hati. Ia merasa telah merepotkan. Ia tidak tahu harus bagaimana.
"Terima kasih…" bisiknya pelan. Ia memandang Jongin dan tak lupa memasang sebuah senyuman kepadanya. Jongin membalasnya dengan sebuah usapan kecil di rambut Kyungsoo. Sebentar, namun dampaknya terasa lama.
"Ah, noona, tunggu!" Jongin menaruh disc pilihannya di meja kasir. "Ini, disc-ku belum kau hitung… hehe,"
Jongin memang terlihat menyebalkan dari luar.
Siapa yang menyangka bahwa ia akan bisa bersikap lembut seperti itu?
Kyungsoo masih dapat merasakan jemari Jongin di atas rambutnya tadi.
Dugeun, dugeun.
Orang-orang zaman sekarang memang tidak dapat ditebak.
.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar